Sunday, April 23, 2017

Futuristic Putrajaya

Liburan singkat memang paling seru kalau ada tempat baru yang bisa dikunjungi. Bagi masyarakat kota Medan, Malaysia menjadi salah satu destinasi wisata yang menjadi salah satu pilihan saat liburan tiba. Dengan jarak tempuh yang dekat, yaitu kurang lebih satu jam, Malaysia menjadi tujuan liburan singkat saya pada kali ini.

Saya termasuk traveler yang senang meng-explore hal- hal dan tempat- tempat baru. Karena selama ini hanya mendengar tentang Putrajaya dan saya belum pernah ke sini sebelumnya, maka kali ini saya akan main ke sana.
Foto dari PICC
Putrajaya merupakan pusat administrasi Malaysia (Wikipedia). Hampir semua sektor kementerian dapat kita jumpai di sini. Belakangan ini, banyak turis yang berkunjung ke Putrajaya, begitu kata driver yang membawa kami berkeliling. Selain bangunan dan gedung bergaya futuristis, Putrajaya juga memanjakan pengunjung dengan aneka kuliner yang menggoda yang bisa teman- teman temukan di Dataran Putra.

Transportasi

Teman- teman bisa memilih dua moda transportasi yang tersedia untuk berkunjung ke Putrajaya. Jika teman- teman lebih suka yang cepat, teman- teman bisa memilih KLIA Transit dengan ongkos yang lebih mahal (kisaran RM9.50-RM10). Waktu tempuhnya juga lebih cepat, yaitu sekitar 15-20 menit.
Bus ini yang kami tumpangi menuju Putrajaya
yang ini duluan berangkat. Full busnya.

Saturday, March 25, 2017

Aku dan Buku Untuk Indonesia


Salah satu hal yang saya tunggu saat tahun ajaran baru tiba – selain suasana baru – adalah buku baru. Di sekolah saya dulu, murid- murid yang membayar uang buku bacaan akan mendapatkan buku bacaan di hari pertama sekolah. Saya bukan salah satu di antara mereka. Ketika teman sebangku saya mendapatkan bukunya, saya meminjam kemudian mencatat judulnya untuk kemudian dibeli di luar. Agak repot, tapi lebih hemat. Selain itu, ada keseruan tersendiri saat hunting buku.

Saya bersyukur karena setiap tahun ajaran baru masih berkesempatan untuk memakai buku baru. Saya selalu menyukai aroma buku baru. Setelah tahun ajaran berakhir, bukunya disimpan untuk kemudian dipakai oleh adik saya. Dan beberapa juga ada yang dipakai oleh sepupu saya jika buku pada tahun ajaran berikutnya masih tidak diganti dan masih dalam kurikulum yang sama. Buku yang paling saya sukai waktu itu adalah buku Bahasa Indonesia karena banyak cerita di dalamnya.

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan hobi baru, yaitu membaca novel. Sayangnya uang jajan yang waktu itu pas- pasan membuat saya tidak bisa membeli novel. Salah satu alternatifnya adalah meminjam dari kawan. Atau kalau tidak, menumpang baca di toko buku yang ada di mal dan menabung dulu lalu dibelikan novel saat ada diskonan.

Setelah tamat SMA, saya mulai kuliah sambil bekerja. Rasanya senang sekali karena sudah memiliki penghasilan sendiri. Hobi membaca saya mulai tersalurkan. Saya bisa membeli novel- novel kesukaan saya dan mulai mengoleksi novel hingga sekarang.

Sejak melihat deretan novel yang tertata rapi di rak, saya jadi ingin kepikiran untuk membuka perpustakaan. Hanya saja, impian untuk memiliki perpustakaan masih belum kesampaian. Semoga suatu hari nanti bisa ya ^^ Nah, saat mendengar program dari BCA yang bertemakan #BukuUntukIndonesia, saya sangat bersemangat. Kegiatan ini merupakan program dari Bakti BCA yang mengumpulkan paket buku dari masyarakat Indonesia untuk kemudian dibagikan kepada teman- teman kita yang membutuhkan. Paket buku dimulai dari Rp 100.000,- hingga Rp 350.000,-. Teman- teman yang berminat bisa berbagi melalui bukuuntukindonesia.bca.co.id (yang akan di-link ke blibli.com) ataupun datang langsung ke BCA cabang terdekat.


Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki tingkat literasi yang rendah. Budaya membaca belum tertanam pada anak- anak Indonesia. Padahal dengan membaca, kita bisa memperoleh ilmu dan informasi yang luas sehingga bisa lebih mengenal dunia. Oleh karena itu, mari kita dorong dan bantu anak Indonesia untuk menjadi lebih baik dengan saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Bersama kita ciptakan generasi muda yang lebih baik. Because sharing is caring and together we can create a better generation Y

Saturday, December 31, 2016

Kulineran Tongseng Sapi Favorit di Hangout Coffee

Liburan nggak kebagian jatah traveling memang paling oke kalau dilewatkan bersama keluarga dan tentunya kuliner yang cocok di lidah. Malam Natal yang lalu, bertepatan dengan anniv-nya Papa dan Mama, kami sekeluarga makan di Hangout Coffee. Kenapa di sini? Karena ada tongseng favorit Papa di sini.

Kami pesan Tongseng Sapi dan Kari Susu Ayam dengan tambahan nasi putih. Cukup pesan dua porsi karena satu porsinya cukup banyak sehingga cukup untuk berdua. Tongsengnya masih enak seperti terakhir kali kami makan di sini. Daging sapinya empuk dan juga pedasnya pas, tidak terlalu pedas untuk saya yang bukan pemakan masakan pedas. Kuahnya wangi dan berasa banget. Karinya juga nggak kalah cetar ya walau nggak pakai santan. Wangi dan gurih.
Tongseng Sapi (45k). Yang nggak makan pedas hati- hati 'ranjau'nya :p
Kari Susu Ayam (35k)

Sunday, December 18, 2016

Menikmati Alam dari Gedung Merpati


Teman- teman yang sudah nonton AADC 2 pasti nggak asing dengan ‘Gereja Ayam’ yang semakin hits setelah film itu diputar. Saya sebenarnya belum tahu. Pas di kamar hotel di Sentul, teman saya bilang ke saya untuk pergi ke Gereja Ayam kalau jadi ke Jogja. Saya pun bertanya dengan polos tentang Gereja Ayam. Teman saya pun menjelaskan kalau lokasi itu merupakan lokasi syuting film AADC2 – yang belum saya tonton karena saya sendiri lupa kapan terakhir kali saya masuk bioskop. He he.

Seperti biasa (melakukan ritual sebelum mengunjungi suatu tempat),  saya mulai browsing mengenai Gereja Ayam ini dan mendapati bahwa pengunjung gereja ini memang banyak dan foto- foto mereka kece- kece, bahkan ada yang pasangan pengantin yang prewed di sini lho. Harus singgah ke sini nih. Lokasinya tidak jauh dari Borobudur. Jadi setelah puas main di Borobudur, kami berangkat menuju Gereja Ayam.
lantai pertama saat memasuki gedung
Sebenarnya gedung ini berbentuk merpati namun karena bentuknya itu gedung ini disebut sebagai Gereja Ayam. Gereja Ayam berlokasi di Bukit Rhema. Fakta lainnya, pendiri Gedung Merpati ini, Daniel Alamsjah, mendirikan gedung ini sebagai rumah doa, bukannya gereja. Gedung ini digunakan sebagai tempat ibadah bahkan sebagai pusat rehabilitasi bagi para pecandu narkoba dan penderita gangguan kejiwaan.


Dari lokasi parkir, kami berjalan menuju bukit. Sebelum melanjutkan perjalanan, beli karcis masuk dulu ya. Harganya Rp 10.000,- per orang. Hasil penjualan karcis ini akan digunakan sebagai sumbangan untuk pembangunan sebagai tempat wisata. Bagi teman- teman yang ingin lebih cepat sampai atau takut kecapaian karena jalanannya nanjak, tersedia ojek yang akan mengantarkan teman- teman sampai di depan Gedung Merpati dengan menggunakan jip. Biayanya Rp 7.000,- per orang.

Sunday, December 11, 2016

Borobudur Setelah Enam Tahun Penantian


Borobudur selalu menempati urutan teratas dalam agenda liburan saya – yang sayangnya belum kesampaian. Kali ini, setelah enam tahun berlalu, akhirnya saya dan teman- teman bisa juga mengunjungi Candi Borobudur. Senang banget ya.

Candi Borobudur dari kejauhan 
Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah. Perjalanan ke Borobudur memakan waktu lebih lama ketimbang ke Prambanan. Hampir satu jam dari tempat kami menginap.

Sesampainya di kompleks candi, kami segera berjalan menuju loket. Loketnya dibagi dua, yaitu loket yang menjual tiket untuk wisatawan lokal dan wisatawan asing. Harga tiket masuk per orangnya Rp 30.000,- (ada tiket terusan untuk mengunjungi Candi Prambanan dan Boko, tapi kami takut tidak sempat, jadinya hanya membeli tiket masuk Candi Borobudur saja). Untuk wisatawan asing, harga tiketnya USD 25.

Kompleks Candi Borobudur ini luas sekali. Saya bahkan celingak celinguk karena Candi Borobudur tak tampak. Barulah setelah berjalan beberapa saat, candi kelihatan. *abaikan saya yang terlalu bersemangat* Kami datang pada hari biasa, hari Senin, jadi tidak terlalu ramai.

Thursday, December 1, 2016

Backpackneymoon: Travel With The One You Love - Susan Natalia Poskitt

Judul                     : Backpackneymoon
Pengarang          : Susan Natalia Poskitt
Penerbit              : B First
Tebal                     : 210 halaman

Sinopsis :
Biasanya, honeymoon selalu diidentikkan dengan menginap di hotel berbintang 5 dan bersantai di pantai. Namun, Susan dan Adam (@pergidulu) memilih untuk menciptakan konsep honeymoon yang berbeda. Backpackneymoon, demikianlah istilah yang mereka buat, terinspirasi dari honeymoon ala backpacking.

Selain traveling menggunakan backpack, campervan pun dipilih sebagai sarana transportasi sekaligus akomodasi. Unsur backpacking yang diambil adalah menekan bujet supaya bisa traveling (dalam hal ini honeymoon) lebih lama. Jika biasanya honeymoon hanya berkisar antara beberapa hari sampai seminggu, mereka menjalaninya selama dua bulan. Tujuan yang dipilih pun bukanlah pantai dengan suasana tropis, melainkan negara yang sedang mengalami musim dingin, Australia dan Selandia Baru.

Mereka telah membuktikan dedikasi mereka sebagai pasangan traveler pertama yang mampu menggabungkan catatan perjalanan berbumbu romansa (yang nggak bikin enek!), disertai panduan dan bujet terlengkap. Harapannya, siapa pun bisa menikmati dan terinspirasi ikut ber-backpackneymoon. Tak selalu harus ke luar negeri, buku ini mendorongmu untuk melakukan eksplorasi sesuai minat, waktu, dan bujet yang dimiliki. Jadi, tunggu apa lagi? Start planning your own backpackneymoon trip today! J

Review :
Punya rencana untuk mengunjungi Selandia Baru? Ingin mencoba menjelajah dengan bebas tanpa terikat itinerary dan jadwal? Teman- teman wajib baca buku ini kalau iya. Bersama suaminya, Adam, Susan mengeksplorasi Selandia Baru dengan campervan. Mereka menyewa dari perusahaan internasional yang ada di Australia dan Selandia Baru. Pilihan campervan-nya pun dijabarkan dalam buku ini.

Susan berbagi tips dan informasi- informasi penting yang teman- teman butuhkan selama berkeliling di Selandia Baru dengan lengkap beserta rincian biayanya. Tentu saja biayanya tergantung kebutuhan dan pengeluaran teman- teman. Tapi setidaknya dengan adanya rincian yang diberikan, kita jadi tahu perkiraan dana yang diperlukan untuk mengunjungi negeri burung kiwi itu.

Lokasi- lokasi yang dikunjungi Susan dan Adam merupakan kawasan alam. Ya, Selandia Baru memang menawarkan wisata alam yang sangat menggugah, dimulai dari danau, gletser, taman nasional, hingga kolam pemandian air panas yang dikelola dengan sangat baik.



Kelebihan dari buku ini yang saya suka adalah gaya menulis Mbak Susan yang sangat menarik untuk diikuti. Jadi saat membaca tidak terasa bosan ataupun jadi bete karena foto- fotonya tidak berwarna dan warna jingga yang mendominasi. Infonya yang lengkap juga akan sangat membantu backpacker yang ingin berwisata ke Selandia Baru. Sejak membaca buku ini, saya rajin mengunjungi website pergidulu. Hehe.

Acara bulan madu tidak monoton dan malah seru karena kita bisa bebas tanpa harus terikat jadwal. Apalagi jika memiliki waktu panjang seperti Susan dan Adam, pasti puas deh. Hanya saja untuk menyewa campervan di Selandia Baru dan Australia, penyewa wajib memiliki SIM Internasional. Harga sewanya pun bervariasi dari van  sederhana hingga van mewah.


Saya tidak bisa me-review dengan detail karena pastinya akan jauh lebih seru kalau teman- teman baca sendiri ya. Buku ini sudah selesai saya baca beberapa bulan yang lalu tapi sampai sekarang masih saja tetap semangat kalau lihat buku ini dan semakin kepingin mengunjungi Selandia Baru – alasan awal saya beli buku ini. Penasaran dan ingin lebih banyak mendapatkan informasi mengenai wisata alam di Selandia Baru? Ikuti petualangan seru Susan-Adam dalam Backpackneymoon. Selamat membaca ^^

Thursday, November 17, 2016

Wisata Alam Kalibiru


Liburan ke Jogja belum lengkap rasanya kalau belum main ke Kalibiru. Kalibiru terletak di Kabupaten Kulon Progo, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisata alam Kalibiru sangat memanjakan mata pengunjung. Dari ketinggian, pengunjung dapat melihat Waduk Sermo yang membentang luas berlatar langit biru yang indah.


Untuk tiket masuk Kalibiru cukup terjangkau, Rp 5.000,- per orang dan tiket spot fotonya beragam, tergantung spot yang teman- teman pilih. Karena kesorean sampai di sana – kami tiba di sana hampir jam tiga sore, dan itu pun antreannya sedang penuh, kami mendapatkan spot foto 2, tiketnya seharga Rp 10.000,- per orang belum termasuk jasa fotonya.


Setelah membeli tiket, kami pun ikut mengantre. Kalau tidak mengantre ya sayang kan sudah sampai di sana hanya melihat dari jauh. Foto sendiri hasilnya backlight. Jadi kami memercayakan dokumentasi kami kepada abang tukang foto. Kalau nggak salah, satu lembar foto biayanya Rp 5.000,- dan ada minimal fotonya. Karena kantong kami sudah kekeringan karena kalap berbelanja di Borobudur, kulineran,  dan masih harus bertahan sampai malam hingga menjumpai mesin ATM *di perjalanan sibuk mencari minimarket yang ada ATMnya* (jangan ditiru karena ini bukan tipe traveler yang baik ;p), kami memilih paket yang paling hemat. Sekali foto langsung bertiga ^^