Tuesday, October 23, 2012

With(out) You

Ken heran saat aku mendorong kursi rodanya.
"Tenang. Aku sudah dapat izin dari dokter. Yuk!"
Kami menghabiskan waktu seharian sebelum Ken dioperasi besok. Ken pasien istimewa. Aku selalu merasa nyaman bersamanya. Ia selalu mencoba tegar di depanku padahal ia kesakitan melawan kanker di tubuhnya.
•••
Kami makan siang bersama, jalan- jalan tak jauh dari rumah sakit. Saat kembali ke kamarnya, Ken berkata, "terima kasih, May. Untuk waktu yang berharga ini. Aku tidak menyesal meski operasiku gagal. Aku sayang kamu."
Ken menggenggam tanganku. Erat dan hangat.
Esoknya Ken pergi secepat ia hadir dalam hidupku. Namun kenangan itu akan selalu ada di hatiku.

Wednesday, August 22, 2012

Another Prince


“Gin, mau sampe kapan kamu seperti ini?” tanya Dewi, sahabat Gina.
“Maksud kamu?” Gina balik bertanya.
“Sampai kapan kamu bakal menjomblo terus? Sampai tua?” tanya Dewi lagi.
“Ya, aku lagi tidak ingin pacaran saja. Masih sakit…”
Kejadian pahit itu masih terbayang- bayang di benaknya. Kejadian yang membuat Gina trauma sekaligus menyesal hingga kini.
“Ya, tapi kamu kan tidak bersalah dalam kejadian itu. It’s just an accident…” Dewi mencoba menenangkan Gina. Gina hanya terdiam dan menarik napas dalam.
ŸŸŸ
Dua tahun yang lalu, tepatnya ketika Gina sedang duduk di kelas satu SMA, Andrew menyatakan cinta padanya. Andrew adalah salah satu ‘prince’ di sekolahnya. Teman- teman memanggilnya begitu karena bagi mereka, Andrew adalah sosok yang mendekati sempurna. Wajah yang tampan dan prestasi yang luar biasa bagus tidak membuat cowok yang satu ini sombong. Ia sangat rendah hati. Terhadap siapapun baik.  Ditambah lagi ia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang direktur utama salah satu bank ternama di Indonesia. Sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang sangat telaten dalam mengurus rumah tangganya. Orang tua mereka telah saling mengenal. Bahkan mereka telah merestui hubungan anak- anak mereka. Padahal Gina masih merasa terlalu cepat untuk membicarakan hal ini. Singkatnya, Gina dan Andrew adalah pasangan yang serasi. Pasangan yang terlalu sayang untuk dipisahkan.
                                                                ŸŸŸ
Seperti biasa, setiap hari Sabtu sekolah Gina libur. Begitu pula dengan sekolah Andrew. Kebetulan mereka beda sekolah. Sorenya Gina meng-sms Andrew untuk mengajaknya keluar.
Drew, kluar yuk!
Andrew mengiyakan ajakan Gina dengan membalas sms-nya.
Ok! aku jmpt skr yah…
Andrew memilih naik mobil. Itu membuatnya merasa lebih nyaman ketimbang naik motor. Kebetulan ia juga sedang kurang enak badan. Di tengah perjalanan, kepala Andrew pusing berat dan…
BRAAKKK…
Mobil Andrew menabrak pohon. Warga setempat segera membawa Andrew ke rumah sakit. Namun sayang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Nyawa Andrew tidak tertolong.
Hal ini tentu merupakan pukulan berat bagi Gina dan keluarga Andrew. Gina merasa ia penyebab kecelakaan ini. Namun orang tua Andrew telah berlapang dada. Mereka tidak menyalahkan Gina atas kecelakaan anaknya. Mereka telah menganggap Gina sebagai anak mereka sendiri.
ŸŸŸ
Sepulang sekolah, Gina berdua dengan Dewi pergi ke mall dulu. Rencananya sih mereka mau jalan- jalan, tapi akhirnya malah Gina yang jalan sendirian. Tiba- tiba pacar Dewi meneleponnya. Katanya ada yang penting. Dewi mengajak Gina pulang. Namun ia tidak mau. Gina masih mau berjalan- jalan meskipun sendirian. Kini, sepeninggal Andrew, jika berjalan sendirian, Gina sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Padahal dulu ia paling tidak suka kalau tidak ditemani bila sedang keluar rumah atau jalan- jalan. Kini Gina semakin linglung. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Setelah berkeliling- keliling, mata Gina tertuju pada sebuah sport house. Dilihatnya toko itu beberapa saat, tetapi ia tidak masuk ke dalamnya. Ia hanya melihat- lihat sepatu olahraga yang dipajang di etalase toko.
“Gin, kita masuk sebentar ya. Aku mau beli sepatu nih,” ajak Andrew
“Gak mau ah. Ntar kalau kamu sudah asyik milih sepatu, jadi lupa waktu. Terus aku gak kamu peduliin lagi,” tolak Gina, lalu pura- pura cemberut.
“Jangan gitu dong, say… Ntar dari sini terserah kamu deh mau ke mana. Mau ke butik langganan kamu atau mau nonton juga boleh. Lagian aku nggak lama kok,” bujuk Andrew. Akhirnya Gina mengiyakan. Sebenarnya tanpa dibujuk dengan embel- embel nonton Gina juga tidak akan tega untuk menolak ajakan cowoknya. Gina tahu betul setiap kali ke mall, Andrew selalu mampir ke toko ini. Andrew sangat suka mengkoleksi sepatu olahraga. Selain bisa digunakan untuk olahraga, juga bisa digunakan untuk jalan- jalan. Andrew juga selalu meminta pendapat ceweknya ini mengenai sepatu yang akan ia beli.
“Maaf, mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Lamunan Gina buyar seketika. Ia terkejut. Seorang karyawati dari toko menanyai Gina. Mungkin karena Gina asyik memandang sepatu sedari tadi.
“Emm, gak kok mbak. Cuma lihat- lihat…”
Nggak masuk mbak? Lagi ada diskon khusus lho buat yang ultahnya bulan ini,”
Nggak deh mbak. Makasih…”
Gina pun berlalu dari toko itu.
“Ulang tahun? Ini kan… Ini bulan Oktober. Hari ini tanggal 6. Seminggu lagi ultahnya Andrew. Balik ke toko tadi ah. Kalo aku beliin sepatu buat Andrew, pasti dia senang banget,” guman Gina.
Bila kita harus berpisah… sudah…
Biarkan ini semua berakhir sudah…
Cinta memang tak harus
miliki ia…
Terdengar refrain lagunya Nidji. Ponsel Gina berbunyi. Ada telepon dari Dewi rupanya.
“Hallo?”
“Gin, kamu masih di mall?”
“Iya. Sekarang aku lagi mau beli kado nih…”
“Kado? Emang siapa yang ultah?”
“Masa kamu lupa sih? Bentar lagi kan ultahnya Andrew?”
“Ya ampun Gin, Andrew itu udah ga ada. Kamu jangan berlebihan. Sekarang kamu tunggu aku di lobby mall. Aku jemput kamu sekarang…”
Klik. Telepon ditutup. Aduh, kok aku jadi begini ya? Padahal kan aku sudah janji untuk tidak sedih terus. Nyatanya aku masih tak kuat, batin Gina kesal.
Tanpa pikir panjang, Gina langsung menuju ke lobby mall seperti yang dikatakan Dewi. Tak lama menunggu, Dewi tiba dengan Jazz biru metaliknya.
ŸŸŸ
Dua tahun berlalu. Namun Gina masih belum bisa melupakan Andrew. Gina sedang  membaca ketika ia mendengar suara Andrew memanggilnya. Mungkin hanya perasaanku saja, batinnya. Akan tetapi suara itu terus terngiang di telinga Gina.
“A- An- Andrew?” Gina bertanya dengan gugup.
“Ya, ini aku. Kamu jangan terkejut ya. Aku datang untuk terakhir kalinya,” ucap Andrew.
“Jadi benar kamu adalah Andrew? Aku kangen banget sama kamu, Drew! Kamu tega banget ya ninggalin aku? Sekarang kamu dimana? Kok tida kelihatan?” Gina mencari- cari Andrew tetapi tak dapat melihat dan menemukannya. Lalu ia menangis.
“Kamu tidak akan bisa melihat aku lagi, Gin. Aku sudah tidak ada di dunia ini,” jawab Andrew sambil berusaha menahan air mata yang ingin melompat keluar dari pelupuk matanya, “ kamu harus berusaha untuk melupakanku, kita sudah tidak bisa bersatu lagi. Dunia kita beda,” terang Andrew.
“Ta- - tapi aku masih sayang kamu. Aku belum siap kehilangan kamu,”
“Gin, kamu harus ingat satu hal, bahwa cinta tak selamanya bisa saling memiliki. Kalau kamu benar- benar sayang sama aku, pertahankanlah rasa sayang kamu. Sayang kamu ke aku bukan berarti kamu harus hidup tertutup. Terbukalah sedikit. Mungkin kamu bukan milikku, tapi aku yakin kamu bakal dapat pasangan yang tulus mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. I love you. It’s time to go… Bye.. Take care…
Setelahnya, Andrew pun pergi. Pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Pergi untuk selamanya.
“ANDREW!!! ANDREW!!! Jangan tinggalin aku!!!” Gina hanya bisa menangis dalam kesedihannya. Sesungguhnya, ia masih sayang sama Andrew. Ia belum sanggup untuk melepas kepergian Andrew.
ŸŸŸ
Keesokan harinya, Gina menceritakan apa yang ia alami kepada sahabatnya. Namun Dewi tidak percaya. Ia menganggap bahwa Gina hanya berhalusinasi. Gina tidak peduli. Ia merasa bahwa kemarin malam itu benar- benar Andrew. Setelah merenungkan kata- kata Andrew kembali, Gina bertekad untuk menuruti nasihat Andrew.
“Andrew benar. Aku tidak boleh terus- menerus larut dalam kesedihan. Hidupku masih panjang. Thanks Drew… Aku tidak akan melupakanmu. Selamanya…” tekad Gina.
ŸŸŸ
Semua tempat bimbingan belajar dipadati oleh siswa/i kelas dua belas yang akan mengikuti Ujian Nasional lima bulan mendatang. Bagi mereka yang ingin memperoleh nilai bagus, ikut bimbingan bisa menjadi salah satu alternatifnya. Sebenarnya tidak ada jaminan pasti bahwa nilai yang diperoleh bisa sempurna, semua kembali kepada si murid, apakah ia tekun atau tidak.
Salah satu murid yang mendaftar ke lembaga bimbingan belajar ialah Dewi. Dewi adalah sosok murid teladan. Ia tidak hanya pintar tapi juga rajin. Nilainya selalu di atas rata- rata. Jika ditanya siapa juara kelas, semua mata pasti mengarah padanya. Jadi bisa dipastikan Dewi akan fokus penuh dalam mempersiapkan ujian akhir ini. Untuk itulah ia mendaftarkan diri mengikuti bimbingan intensif selama lima bulan ini. Semua demi nilai.
Berbeda dengan Gina yang santai saja dalam belajar. Prestasinya tidak terlalu menonjol. Ketika ditawari oleh Dewi untuk ikut bimbingan saja Gina sudah menolak.
“Nggak mau Wi. Bimbingan dari sekolah saja sudah bikin pusing. Apalagi dari luar. Bisa meledak nih aku,” begitulah jawaban Gina saat ditanyai Dewi.
“Ya sudah kalau nggak mau. Ngomong- ngomong, kamu udah tau belum kalau kelas kita bakalan kedatangan murid baru?”
“Aku belum dengar tuh. Kok tanggung banget? Sudah kelas tiga baru pindah sekolah. Anak mana, Wi? ” ucap Gina lalu menyesap teh manis dingin pesanannya.
“Aku nggak gitu jelas juga. Hanya dengar sekilas saja,”
Dan bel masuk pun berbunyi. Seluruh murid yang sedang berada di luar ruangan kelas segera masuk kelas. Namun ada juga sebagian yang masih enggan masuk. Mereka yang belum masuk itu duduk di meja yang ada di depan kelas. Setelah melihat guru datang dari kejauhan, barulah mereka cepat- cepat masuk kelas.
Tap tap tap...
Suara sepatu hak tinggi itu mulai terdengar. Wanita berusia tiga puluhan itu memasuki kelas. Kali ini tidak sendiri. Ia ditemani oleh seorang laki-laki remaja yang sebaya dengan murid- murid di kelas itu.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Bu Astri, seperti itu biasa ia dipanggil.
“Selamat pagi, Bu” terdengar balasan dengan suara semangat. Tentu saja pagi ini mereka semua bersemangat. Apalagi murid wanita. Atmosfer baru yang menyegarkan, pikir mereka.
“Baiklah anak- anak. Pagi ini kita kedatangan murid baru. Mungkin sebelumnya ada yang sudah tahu mengenai kabar ini. Dan inilah dia. Ayo, nak, perkenalkan diri kamu ke teman- teman,” ujar Bu Astri sambil meraih bahu murid baru itu.
“Hai. Kenalin, nama saya Jeff Aryanto. Panggil saja saya Jeff. Saya pindahan dari Bali,” ujar Jeff memperkenalkan diri dengan sopan.
“Nah, sekarang Jeff resmi menjadi bagian dari kelas kita. Walaupun waktu yang tersisa tidak banyak, Ibu harap kalian bisa menjalin hubungan yang baik dengan Jeff. Ditambah lagi ujian akhir sudah dekat dan Jeff perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya, Ibu harap kalian membantunya. Baiklah Jeff, kamu boleh duduk di samping Gina,” jelas Bu Astri kemudian mempersilahkan Jeff duduk dengan menunjuk ke arah tempat duduk Gina yang terletak di deretan belakang.
Dengan patuh Jeff pun berjalan menuju ke tempat yang telah ditunjuk oleh wali kelas barunya itu. Sesampainya di tempat duduk barunya, Jeff hanya menyunggingkan seulas senyum kepada Gina. Setelahnya, ia mengeluarkan buku pelajarannya dan fokus mendengarkan pelajaran Bu Astri.
Gina, yang paling anti dengan pelajaran Sejarah, hanya bisa terheran- heran mengamati Jeff sepanjang pelajaran berlangsung. Baginya, ada atau tidaknya kehadiran Jeff sama saja. Sama rasanya seperti duduk sendiri. Seharusnya sebagai murid baru, Jeff lebih ramah kepada Gina. Ini malah diam saja.
Akhirnya satu mata pelajaran lewat juga. Bu Astri merapikan bukunya kemudian keluar dari kelas. Melihat Jeff yang ‘dingin’, Gina memulai percakapan. Mungkin anak ini masih malu, pikir Gina.
“Hai Jeff. Kenalin aku Gina,” sapa Gina ramah sambil mengulurkan tangannya.
“Hai juga. Salam kenal,” balas Jeff singkat sambil menjabat tangan Gina. Datar.
Setelahnya Jeff terdiam kembali. Kali ini ia mengeluarkan buku yang tidak terlalu besar namun lebih besar dari buku pelajaran Sejarahnya tadi. Ia mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas putih itu. Jemarinya dengan lincah menari- nari di atas kertas. Gina pun tidak berani bertanya terlalu banyak lagi.
ŸŸŸ
“Gila Wi, tuh anak bener- bener deh. Masak kusapa dia enggak ada reaksinya?” cerita Gina pada Dewi saat mereka sedang menikmati jajanan mereka di kantin.
“Mungkin dia segan kali sama kamu?”
“Enggak kali Wi. Aku nggak jutekin dia. Malah aku nanya baik- baik. Dasar cowok aneh. Misterius,”
“Sabar deh Gin. Ntar kalo udah waktunya pasti dia bakalan ngomong juga kok. Dia kan butuh adaptasi juga,” hibur Dewi.
Setelahnya mereka kembali menikmati makanan mereka. Tiba- tiba pandangan Gina tertuju pada sosok yang tidak begitu asing yang sedang duduk di pojok kantin. Ada tiga orang. Salah satunya Jeff. Dua yang wanita lain Gina mengenali mereka sebagai adik sepupu Andrew. Gina sendiri tidak terlalu dekat dengan kedua sepupunya itu. Andrew juga begitu.
“Wi, coba kamu lihat. Itu kan Jeff. Sama Tifanny dan Natalia. Dia kenal mereka berdua? Cepat banget yah,”
“Iya. Mungkin sebelumnya sudah kenal atau mereka ada hubungan gitu,” balas Dewi.
“Nggak tahu juga sih. Udah deh, bukan urusan kita. Masuk kelas yuk. Bentar lagi bel nih,” ajak Gina.
ŸŸŸ
Sudah hampir dua minggu Jeff duduk sebangku dengan Gina. Namun Gina merasa hampir tidak ada perubahan yang terjadi pada Jeff. Jeff masih saja dingin terhadap Gina. Gina jadi bingung mengapa cowok yang duduk di sebalahnya ini harus bersikap begitu kepadanya. Sudah tidak tahan lagi, Gina memberanikan diri bertanya kepada Jeff.
“Jeff, sebenarnya aku punya salah apa sih sama kamu? Kelihatannya sejak kamu masuk, kamu dingin begitu sama aku?”
“Nggak. Kamu nggak salah apa- apa. Aku orangnya memang begini,” dustanya.
“Kamu bohong. Sama Dewi dan temen- temen yang lain kamu nggak gitu. Cuma sama aku saja. Kamu kira aku bodoh?” ada sedikit emosi dalam suara Gina setelah mendengar jawaban Jeff.
Jeff tidak lagi menjawab pertanyaan Gina. Ia malah melangkah keluar kelas.
“Jeff!” teriak Gina kesal. Emosinya memuncak. Mau cerita kepada Dewi, anak itu tidak datang. Dewi izin tiga hari karena ia menghadiri pernikahan sepupunya di Kuala Lumpur.
Merasa bosan, Gina pun keluar dari kelas. Ia berjalan- jalan tanpa arah dan tujuan. Ia hanya mengikuti langkah kakinya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang murid tengah duduk di bangku sambil meniup- niup tangannya yang berdarah.
“Jeff! Tangan kamu kenapa? Kok berdarah begini?” tanya Gina panik.
“Bukan urusan kamu. Aku bisa sendiri kok,” ucap Jeff sambil bangkit berdiri hendak pergi.
“Aku nggak peduli seberapa tidak suka kamu sama aku. Tapi kamu nggak boleh gitu dong. Tangan kamu bisa infeksi kalau dibiarkan begini terus,”
Jeff terhenti. Ia tidak jadi melangkah pergi.
“Ayo, aku bawa kamu ke UKS. Kamu pasti belum tahu kan dimana,” ajak Gina.
Jeff menurut saja ketika diajak oleh Gina. Ia tidak protes. Di tengah perjalanan, Gina membuka pembicaraan, “aku nggak tahu Jeff apa yang membuat kamu tidak suka sama aku. Perasaan dari waktu aku kenal kamu, kamu sudah begitu. Kalau kamu memang merasa aku bermasalah atau apa, kamu bisa cerita sama aku. Ya, aku sih berharap kita bisa jadi teman yang baik,”
UKS sedang kosong waktu itu. Padahal biasa ada yang menjaga. Otomatis, Gina yang mengobati Jeff. Diambilnya kapas dengan alkohol lalu diusapkannya ke tangan Jeff yang tergores cukup panjang itu. Sebenarnya Gina penasaran mengapa Jeff bisa terluka seperti itu. Namun Gina urung menanyakannya. Ia tahu Jeff tidak akan menjawabnya. Setelah selesai membalut luka Jeff, Gina menyimpan kembali obat- obat itu ke dalam kotaknya.
“Kalau kamu takut infeksi atau apa, aku sarankan habis sekolah kamu ke dokter,” saran Gina lalu membalikkan punggung dan berjalan pergi meninggalkan Jeff.
Baru saja Gina sampai di ambang pintu UKS, Jeff menyerukan namanya, “Gina!”
“Thanks..” ucapnya pelan.
Seulas senyum tersungging dari bibir Gina tanda responnya terhadap ucapan terima kasih Jeff. Setelahnya ia berjalan kembali ke kelas dan meninggalkan Jeff.
Lima menit kemudian Jeff tiba di kelas. Suasana kembali hening. Tidak ada tanda percakapan antara mereka berdua akan dimulai. Hingga lonceng pulang sekolah berbunyi.
Gina keluar dari kelas terlebih dahulu. Hari ini dia tidak diantar pulang oleh Pak Man, supirnya. Gina pulang sendiri. Maka, kini Gina sudah berada di perempatan jalan menunggu angkot yang lewat. Tiba- tiba sebuah mobil sedan melaju kencang sekali sehingga becek jalanan terciprat ke seragam sekolah Gina. Yah, nasib. Jadi kotor deh. Ketika Gina sibuk mencari tisu di tasnya, sebuah sapu tangan terulur kepadanya. Jeff!
“Nih, bersihin dulu pakai sapu tanganku,” tawar Jeff.
“Ohh.. Makasih,” Gina menerima sapu tangan itu lalu mengelap rok dan sebagian kakinya yang terkena becek.
Belum sempat berkata lagi, Jeff sudah keburu melesat pergi dengan Ninjanya. Gina hanya bisa terheran- heran.
Aneh, apa dia sudah berubah? Apa karena tadi aku menolong dia? Ternyata dia bisa baik juga ya. Tapi aku merasa dia tidak asing bagiku. Itu sebabnya aku selalu penasaran terhadapnya dan selalu ingin tahu pribadi dibalik sikap dinginnya. Sepertinya aku sudah kenal dia sebelumnya. Padahal aku baru kenal dia dua minggu ini. Rasanya dekat banget.
Ketika dia menolongku, aku merasakan ada ketulusan darinya. Kalau saja dia mengacuhkanku. Kalau saja dia tetap mempedulikanku. Kalau saja...
Aku merasa dia seperti Andrew. Ada kebaikan dalam dirinya. Tapi mengapa dia begini? Astaga, apa aku sudah jatuh hati padanya? Secepat itukah Jeff membuatku dapat jatuh cinta lagi?
~Irgina Winner~
ŸŸŸ
Sapu tangan pinjaman Jeff sudah Gina cuci dan jemur. Rencananya ia akan mengembalikan kepada pemiliknya besok.
Esoknya Gina tidak lupa membawa sapu tangan Jeff. Setelah sarapan ia pun berangkat ke sekolah. Ketika ia tiba di kelas, Jeff sedang duduk sambil membaca buku pelajarannya.
“Ini Jeff sapu tangan kamu yang kemarin. Sudah aku cuci kok,” ujar Gina sambil mengembalikan sapu tangan Jeff, “makasih ya,”
“Sama- sama,” balas Jeff singkat.
“Tangan kamu, sudah agak baikan?” tanya Gina.
“Sudah,” jawabnya singkat. Diam kembali.
“Ngomong- ngomong, kamu kok mau nolong aku kemarin?” tanya Jeff setelah keduanya terdiam beberapa saat.
“Ya karena waktu itu kamu lagi butuh pertolongan. Nggak mungkin kan pas aku lewat terus aku biarin kamu gitu. Lagian aku pikir kamu juga masih baru jadi nggak tahu UKS dimana,”
“Oh. Meskipun aku cuek dan jutek sama kamu?”
“Aku nganggap kamu teman aku meskipun kamu rada nyebelin sih sebenarnya,” ucap Gina malu- malu.
Well, kurasa aku juga nggak bisa cuekin kamu terus. Kelihatannya kamu baik. Tidak salah kalau Andrew memilih kamu,” ucap Jeff tulus.
“Andrew? Kamu kenal dia?”
Dan cerita sebenarnya bergulir dari mulut Jeff. Sebuah rahasia yang cukup mengejutkan Gina. Jeff ternyata adalah sepupu dekat Andrew. Ia dan Andrew sudah seperti saudara kandung sendiri. Keduanya anak tunggal. Jadi karena orang tua masing- masing sibuk, Andrew menjadi akrab dengan Jeff. Baik ketika sedang senang ataupun sedang ada masalah menimpa, Andrew selalu menceritakannya kepada Jeff. Begitu pula Jeff. Jadi Jeff tahu hubungan antara Andrew dengan Gina.
Ketika berita mengenai kecelakaan Andrew diketahui Jeff, Jeff tak kalah shock dengan Gina. Ia merasa ia telah kehilangan saudaranya. Sejak saat itu Jeff sedikit merasa kematian Andrew disebabkan oleh Gina. Jeff yang kala itu belum mengenal Gina langsung, menjadi penasaran dengan gadis yang dapat membuat Andrew mengabaikan kesehatannya sendiri karena sebelum kecelakaan itu terjadi, paginya Jeff sempat berteleponan dengan Andrew dan dari sana ia mengetahui bahwa Andrew sedang tidak fit. Kepalanya sakit dan sering berdenyut.
Sebutir kristal bening tumpah dari bola mata yang indah itu, “maaf Jeff, aku nggak bermaksud untuk membuat Andrew jadi begini,” suara Gina sedikit bergetar ketika berkata- kata.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Seharusnya aku lah yang meminta maaf. Sekarang pikiranku sudah terbuka. Sekarang aku tahu kamu cewek yang baik. Maaf kalau selama ini aku sudah berprasangka buruk sama kamu,” ucap Jeff tulus dengan nada sedikit menyesal sambil menyeka air mata Gina.
“Nggak apa- apa Jeff. Sekarang Andrew sudah tenang disana. Kita juga sebaiknya mengikhlaskan kepergiannya. Aku juga baru tahu kalau kamu sangat dekat dengan Andrew. Ia sendiri pernah cerita kalau ia punya sepupu dekat yang biasa ia panggil Arya. Aku nggak nyangka kalau itu kamu,”
“Iya. Andrew tidak suka memanggilku Jeff. Ia lebih senang memanggilku Arya. Jadi mulai sekarang aku nggak akan bikin kamu kesal lagi,”
Gina tersenyum. Ia sangat senang melihat perubahan Jeff. Ternyata rasa sayang Jeff kepada Andrew sama besarnya dengan rasa sayangnya kepada Andrew. Dan kini semua masalah sudah jelas dan terselesaikan.
ŸŸŸ
Ternyata kamu berbeda.
Tidak seperti prasangkaku.
Maafkan aku yang terlalu egois.
Kutahu dukamu sama seperti dukaku.

Gadis itu tidak seperti yang kubayangkan. Ia tidak seperti kebanyakan gadis lain yang manja. Ia dewasa. Ia juga baik. Meskipun aku begitu terhadapnya. Aku akan berusaha menjaganya untukmu, Andrew.
~Jeff Aryanto~
ŸŸŸ
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Ujian Nasional yang ditakuti para murid pun sudah dilewati dengan baik. Hubungan Gina dan Jeff kian membaik. Keduanya menjadi akrab. Sampai ketika suatu hari Jeff memberitahu Gina bahwa ia akan melanjutkan studi ke negeri kangguru atas beasiswa yang diterimanya. Sejujurnya Gina berat. Ia yakin pada perasaannya kini. Ia sudah jatuh cinta pada Jeff. Namun ia tidak berani mengungkapkannya. Takut Jeff hanya mengganggapnya sebagai sahabatnya.
ŸŸŸ
Mengapa rasa sakit itu kembali menghunjam?
Tidak tahukah kau aku begitu mencinta..
Kuingin bersamamu..
Tidak tahukah kau aku begitu mendamba..

Aku tidak melupakan Andrew. Andrew akan selalu berada di dalam hatiku. Namun apa daya ketika cinta itu telah datang menghampiri. Cinta yang lain. Cinta yang tumbuh dalam kebersamaan. Namun aku terjatuh lagi. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Sakit dan perih.
~Irgina Winner~
ŸŸŸ
Saat yang paling tidak ingin dihadapi keduanya akhirnya tiba juga. Hari ini Jeff akan meninggalkan Indonesia. Meninggalkan Gina dan kenangan indah yang dilewatinya bersama Gina. Hatinya berat juga. Namun ia juga tidak bisa mengecewakan kedua orang tuanya. Jeff merupakan anak kebanggaan dan tentu saja realita harus tetap dihadapi.
Aku akan kembali, begitu kata terakhir Jeff kepada Gina sebelum ia pergi.
Aku akan menunggumu, kata ini akhirnya dapat diucapkan oleh Gina. Ia berharap Jeff mendengarnya.
ŸŸŸ

Aku sedih.
Meninggalkanmu disini.
Aku senang.
Hatimu akan tetap untukku.
Tunggu aku.
Aku akan kembali.
~Jeff Aryanto~
ŸŸŸ
Lima tahun kemudian…
Gina berusaha untuk membuang pikiran tentang Jeff dari benaknya. Namun hal itu tampaknya sia- sia. Bayangan Jeff masih selalu hadir. Tidak pernah absen.
“Hai,”
Gina mengucek- ngucek matanya. Berharap itu bukan sekadar ilusinya. Namun bayangan itu masih belum juga hilang.
“Lupa sama aku ya?” tanyanya sambil tersenyum.
“Jeff? Benaran kamu?” Gina bertanya kembali. Hampir tidak percaya.
“Ya iyalah. Aku kembali. Maaf kalau aku tidak kontak kamu selama ini,”
“Kukira kamu sudah melupakanku Jeff. Sudah balik berapa hari?”
“Baru saja. Koperku masih di mobil. Mana mungkin aku melupakanmu. Kamu ingat lima tahun yang lalu ketika aku bilang aku pasti kembali dan kamu bilang kamu menungguku. Apakah kamu masih menungguku?” ucapnya sambil meraih kedua tangan Gina. Sorot mata Jeff serius.
Gina menggangguk.
“Aku kembali untukmu. Maukah kamu menjadi pengisi hatiku?” Jeff melepaskan tangannya kemudian membentangkannya lagi untuk menanti jawaban Gina.
Gina menggangguk lagi. Bahagia. Berlari kedalam pelukan hangat Jeff.
TAMAT
mumljj

Saturday, July 28, 2012

Bulan Tanpa Kenangan

Tidak selamanya matahari akan berada di atasmu..
Ketika matahari terbenam, selalu ada bulan..
Ketika api cinta ini padam..
Cahaya bulan menerangi malam yang gelap..
Menerangi hati yang kelam..
Bulan memahami lebih dari apa yang hati tahu..
Namun hati akan  melupakannya..
Berusaha meraih matahari yang takkan kembali..
Dan terjebak dalam bayang semu sang matahari..


j8mujj

Thursday, July 26, 2012

Diari Tiga Sahabat II


Aku tidak salah dengar. Dini dan aku jatuh cinta pada lelaki yang sama. Sahabat kami sendiri. Aku tahu kedengarannya aneh. Namun ini hak kami. Cinta datang tanpa ada yang bisa menghalangi. Akan tetapi salahkah aku bila aku cemas? Biarlah waktu yang menjawabnya.
“Liv,” panggil Evan sambil mengguncang ringan bahuku. Membuyarkan lamunanku.
“Kamu lagi ngelamunin apa? Yuk, udah waktunya kita pergi,”
Aku menggeleng saja dan mengikuti Evan. Sudah waktunya pulang sekolah. Seperti rencana semula, kami pergi ke toko buku. Sebelumnya, kami mampir dulu ke kelas Dini biar bisa turun bersama. Alangkah terkejutnya kami mendengar bahwa Dini sudah pulang duluan. Kata Arina, teman sebangkunya, Dini sakit kepala.
“Iyah, tadi dia sakit kepala. Awalnya dia sih nggak mau pulang. Cuma aku liat sakit kepala Dini gak hilang, daripada dia nahan sakit terus dan nggak konsen, tadi aku bawa dia minta izin. Akhirnya dia pulang tadi,”  tutur Arina.
“Oh. Makasih ya Rin buat infonya,” ujar Evan.
“Van, kita batalkan saja acara ke toko bukunya. Aku khawatir sama Dini,”
“Iya sama. Bentar aku telepon Dini dulu,”
Tut tut. Tidak ada jawaban dari seberang sana. Aku dan Evan langsung pulang. Kami langsung menuju ke rumah Dini. Dini tengah berada di kamarnya. Ia sedang tidur. Aku dan Evan tidak mau mengganggunya. Kami pun menutup pelan pintu kamar Dini dan pulang ke rumah kami masing- masing.
Ketika aku hendak berjalan ke arah rumahku, Evan meraih tanganku.
“Kenapa Van?” tanyaku
Evan tidak menjawab pertanyaanku. Ia menatapku. Dalam. Aku merasa seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
“Van?” panggilku.
“Aku suka sama kamu, Liv,” ucapnya jelas.
“Maksud kamu, Van?”
“Aku suka sama kamu, Liv. Aku tau kita sahabatan. Tapi rasa cinta ini muncul dengan sendirinya. Awalnya aku ingin menunggu. Namun aku juga takut kesempatan itu hilang. Jadi, maukah kamu menjadi kekasihku, Liv?”
Aku terkejut. Ternyata perhatian Evan terhadapku selama ini bukan hanya sebatas perhatian seorang sahabat. Ia memiliki perasaan yang sama juga denganku. Kami berdua saling mencintai. Seharusnya aku bahagia. Namun aku tidak bisa begitu saja menerima Evan. Ingat, aku dan Dini mencintai lelaki yang sama. Aku tidak mau jembatan persahabatan kami hancur hanya karena terjangan cinta. Aku tidak boleh egois.
“Livia? Kamu ngelamunin apa?” suara Evan lagi-lagi membuyarkan lamunanku.
“Aku nggak bisa, Van. Di…” ups, hampir saja aku bilang kepada Evan kalau Dini suka Evan.
“Dini? Dini kenapa?”
“Di.. Dini kan sedang sakit. Masak kita ngomongin hal ini. Lagipula aku nggak bisa jadi kekasihmu. Kita hanya sahabat,” elakku dengan mengarang- ngarang sebuah alasan.
“Kamu bohong, Liv. Aku bisa lihat dari mata kamu. Kamu juga suka aku kan? Aku kenal kamu bukan baru lima bulan ini. Aku sudah kenal kamu dua belas tahun dan aku tahu kamu paling gak pinter bohong. Dan mengenai Dini, aku rasa dia bakalan seneng kalo kita jadian,”
“Nggak! Dini nggak bakalan….” buru- buru aku mengerem ucapanku.
Nggak bakalan apa maksud kamu, Liv?”
“Ng..nggak. Maksudku kan dia lagi sakit. Ya gak pas saja lah,”
“Tuh kan. Kamu bohong lagi. Ngomong terus terang sama aku. Ada apa dengan Dini?”
Aku kalah. Aku tidak sanggup menyembunyikan hal ini dari Evan. Lalu aku pun bercerita mengenai perasaan Dini terhadapnya.
“Kalau begitu, aku akan bilang langsung ke Dini,” tegas Evan
“Jangan dulu, Van. Aku takut nanti dia sedih. Lagipula Dini masih sakit. Kita tunggu waktu yang pas ya. Pliss.. ”
“Oke deh. ”
RRR
Aku sakit kepala lagi. Kali ini entah sudah yang keberapa kali laginya. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi. Aku yang sudah tidak tahan lagi kemudian menceritakan hal ini kepada Mama dan beliau membawaku ke dokter. Dokter menyarankanku untuk menjalani serangkaian tes. Sebenarnya aku tidak mau. Seperti orang berpenyakit saja, pikirku.
Sepuluh hari kemudian…
Hasil tes membuatku seolah- olah kehilangan duniaku. Aku divonis menderita kanker otak. Kaget. Sedih. Takut. Kata dokter, masih sempat jika mau diobati. Masih stadium awal. Mama lebih kaget. Namun berusaha untuk tetap terlihat tegar agar aku tidak shock.
Aku sendiri tidak menyangka di usia mudaku aku harus ‘bermain’ dengan penyakit ini. Aku belum siap untuk kehilangan keluargaku, teman- temanku. Meninggalkan segalanya yang terlalu indah.
RRR
Aku belum memberitahukan  kepada kedua sahabatku mengenai penyakitku. Entah reaksi apa yang akan mereka tunjukkan ketika aku memberitahu mereka. Namun aku juga tidak boleh menyimpan ini sendirian. Mereka berdua sahabatku. Mereka berhak tahu apa yang terjadi denganku.
Aku bertanya kepada Mama apakah aku boleh menunda pengobatan hingga aku lulus SMA nanti. Dan jawaban dari Mama sudah kuduga. Mama tidak mengizinkanku. Tapi aku terus memohon.
“Plis ya ma. Tinggal beberapa bulan aja kok. Aku pengen melewati masa- masa indah di SMA, Ma” pintaku.
“Tapi pengobatan kamu penting, sayang. Ini demi kesehatanmu. Lebih cepat kan lebih baik,”
“Iyah sih Ma. Aku janji deh, Ma. Setelah UN, aku langsung ke Singapur. Lagipula kata dokter, untuk sementara kalau aku masih mau disini nggak apa- apa. Aku bakal rajin control deh Ma. Ya ? pliss….”
Akhirnya Mama luluh juga dengan syarat aku harus rajin periksa ke dokter, rajin minum obat, dan tidak boleh kecapekan.
RRR
Akhirnya Dini bisa kembali ke sekolah besok. Hari ini aku dan Evan main ke rumah Dini. Dini sudah kelihatan agak sehat hanya saja masih sedikit pucat.
“Wah, libur panjang ya kamu, Din,” goda Evan.
“Ya donk. Namanya juga orang sakit. O iya, aku mau  ngomong sesuatu nih sama kalian berdua,” jawab Dini kemudian melanjutkan kata- katanya dengan nada serius dan agak tegang.
“Ada apa, Din?” tanyaku. Perasaanku tidak enak. Sepertinya bukan hal baik.
“Aku gak bakalan lama lagi disini, Liv, Van,”
“Loh, kenapa? Kamu mau lanjut kuliah ke luar kota? Atau keluar negeri?” tebak Evan.
“Bukan. Aku kena kanker otak. Masih stadium awal dan sel- sel kankernya belum menyebar. Jadi masih aman lah untuk sementara ini,” tutur Dini.
Aku dan Evan kontan shock. Tidak menyangka hal ini akan menimpa sahabat kami. Dini lalu menceritakan semuanya kepada kami. Di satu sisi, aku ingin Dini segera pergi berobat ke Singapura agar dia bisa lekas sembuh. Namun di sisi lain aku juga mendukung keputusannya untuk tetap di Medan karena berat rasanya jika berpisah dengan dia secara mendadak.
Kini kami harus berpacu dengan waktu. Melewati momen- momen terakhir ini dengan bahagia. Dan jika hari itu telah tiba, aku dan Evan akan mendoakan Dini. Pasti.
Rasanya aku tahu bagaimana membuat Dini merasa bahagia. Dengan mewujudkan impiannya.
RRR
Aku sedih sekali mendengar sahabatku harus terserang penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawanya. Dini sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Namun aku harus tetap menunjukkan ekspresi gembira dan tetap menyemangati Dini. Aku tidak boleh sedih di hadapannya. Apalagi Dini begitu menghargai persahabatan kami. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.
RRR
Rasanya aku baru saja bermimpi. Mimpi buruk. Akan tetapi kenyataan menyadarkanku. Ini nyata. Salah satu sahabat terbaikku akan meninggalkan aku dan Evan sebentar lagi. Dini bukan pergi untuk berlibur ataupun studi ke luar negeri. Ia akan menjalani pengobatan disana. Bertarung melawan ganasnya kanker.
Aku meng-sms Evan agar dia datang ke rumahku agak sorenya, setelah kami pulang dari rumah Dini. Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin agar dia bisa menjadi hadiah terindah bagi Dini sebelum Dini berangkat ke Singapura untuk menjalani pengobatan.
Tok tok tok..
“Ya, masuk,” aku memberi jawaban agar yang mengetuk pintu bisa masuk. Ternyata Mbok Arni.
“Non, ada Mas Evan di bawah,” ujarnya.
“Oh. Okeh, Mbok. Makasih ya,”
Aku segera turun ke bawah untuk menemui Evan. Aku agak tegang sebenarnya. Namun ini harus kuungkapkan sekarang. Aku tidak mau terlambat.
“Hi, Van,” sapaku berusaha untuk tetap tenang.
“Hi, Liv. Tadi di sms kamu bilang ada yang mau kamu omongin ya? Tentang apa, Liv? Tentang Dini ya?”
Aku menggangguk. Mengambil posisi duduk di samping Evan agar aku tidak menatap matanya langsung.
“Tentang Dini, Van. Kamu tahu kan perasaan Dini terhadap kamu?”
Evan menggangguk kemudian melanjutkan, “lalu?”
“Aku ingin kamu bersamanya, Van…” aku berusaha mengucapkannya dengan mantap.
“Apa, Liv? Aku nggak salah dengar?”
“Iya, Van. Ini demi kebaikan kita. Aku hanya ingin Dini bahagia sebelum ia pergi. Pliss Van….” pintaku.
“Tapi aku hanya mencintaimu, Liv. Kamu tahu itu dan aku tahu rasa yang kamu miliki ke aku itu sama. Untuk apa kita melakukan hal yang pada akhirnya akan melukai kita, Liv?”
Aku terdiam.
“Maaf, Liv. Mungkin aku terdengar egois,” ucapnya lirih sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
“Tapi aku ingin agar Dini bisa lebih menikmati momen- momen terakhirnya. Kumohon, Van. Setidaknya kita coba dulu, ya,”
Aku terus memohon agar Evan bersedia untuk menjadi kekasih Dini. Akhirnya ia bersedia juga.
“Baiklah kalau itu yang kamu mau, Liv. Hanya aku ingin kamu tahu hatiku hanya selalu untukmu. Aku akan melakukan ini demi sahabat kita. Oke?” Evan mengucapkannya dengan tulus dan tanpa sadar hal ini membuat air mata menetes dari pelupuk mataku. Aku menggenggam tangannya erat.
RRR
Aku akan melakukan hal yang bertentangan dengan hatiku. Namun begitu nuraniku masih bernafas. Aku tidak tega melihat kedua sahabatku menderita. Dini yang memendam perasaan padaku sementara dia sendiri sedang sakit dan Livia yang memohon- mohon karena dia sangat ingin melihat Dini tersenyum bahagia. Semua akan kulakukan demi sahabat. Semoga semuanya dapat berjalan dan berakhir dengan bahagia. Semoga.
RRR
Tiga minggu berlalu sejak aku ‘berdiskusi’ dengan Evan. Kini Evan telah menjadi kekasih Dini. Perih? Tentu ada. Namun aku tidak mau terlalu ambil pusing. Yang terpenting adalah kebahagiaan Dini. Aku tidak ingin Dini membenciku jika ia tahu aku mencintai Evan. Aku ingin agar persahabatan kami abadi selamanya.
RRR
Aku melewati sisa- sisa waktuku bersama kedua sahabatku dengan hampir sempurna. Dua minggu yang lalu, Evan menyatakan perasaannya kepadaku. Awalnya aku senang. Evan pun sangat perhatian kepadaku. Ia selalu singgah ke kelasku ketika waktu istirahat tiba. Ia juga rutin mendatangi rumahku tiap sore. Entah untuk mengerjakan PR ataupun hanya sekadar untuk menanyakan keadaanku. Malam minggu kami lewati layaknya sepasang kekasih.
Namun aku bukanlah anak kecil yang hanya bisa menerima dengan polos. Aku tahu bahwa Evan tidak sungguh- sungguh mencintaiku. Ketika kami bertiga berkumpul, aku melihat sorot matanya yang begitu hangat terhadap Livia. Begitu teduh. Begitu pula sebaliknya. Mungkin Livia dan Evan ingin membahagiakanku.
Aku seharusnya bersyukur memiliki sahabat seperti Livia dan Evan. Seharusnya aku memutuskan hubungan dengan Evan. Tapi aku jahat. Aku malah meneruskan hubungan ini. Aku tidak kuasa menahan perasaanku sendiri. Biarlah kepalsuan ini diteruskan sebentar lagi. Sebelum aku pergi dan tak tahu kapan aku bisa kembali lagi. Mungkin saja aku tidak akan pernah kembali lagi.
RRR
Tiada pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan. Cepat atau lambat perpisahan ini harus terjadi. Tanpa terasa sudah hampir dua bulan aku menunda pengobatanku. Kini studiku di bangku SMA telah kuselesaikan. Saatnya aku meninggalkan Indonesia dan memulai pertarunganku melawan kanker ini.  

Bersambung ke

Diari Tiga Sahabat


Aku, Livia, dan Dini. Kami bertiga tumbuh bersama. Bermain bersama. Ke sekolah bersama. Semuanya dilakukan bersama. Persahabatan kami kokoh tetapi sedikit retak ketika sesuatu bernama cinta itu muncul dan kami tidak dapat menolak apalagi membuang cinta yang bersemi dalam hati kami masing- masing. Namun selalu ada solusi. Pengorbanan datang dari sahabat yang tulus menyayangi sahabatnya yang lain.
RRR
Aku pindah ke kompleks Livia dan Dini ketika aku duduk di kelas satu SD. Segera saja aku si anak baru ini mencari teman. Dini dan Livia lah yang menjadi teman dekatku. Kebetulan kami satu kompleks, satu sekolah, dan satu kelas. Aku rasa ini bukan kebetulan biasa. Namun tahu apalah aku saat itu.
Setiap hari aku berangkat ke sekolah bersama dengan mereka. Sekalian jalan, begitu kata Mama Dini. Aku sih oke saja. Sepulang sekolah kami mengerjakan tugas bersama. Ketika bermain pun aku tidak merasa risih dengan alat masak- masakan milik kedua anak perempuan itu. Aku cepat beradaptasi. Dan seperti anak- anak lainnya pada waktu itu, setelah selesai mengerjakan tugas kami akan bermain bersama. Kadang-kadang di rumahku, kadang- kadang di rumah Dini ataupun di rumah Livia. Bergantian lah. Ini tidak sulit mengingat rumah kami (yang kebetulan lagi) berdempetan. Masuk dari gerbang utama, rumah Livia duluan sampai kemudian tepat di sebelahnya adalah rumahku dan di sebelah rumahku lah rumah Dini berada.
Tidak selamanya kami bermain masak- masakan. Terkadang kami menaiki sepeda mengelilingi kompleks. Ketika sedang tidak sibuk, Mama Dini membawa kami jalan- jalan ke mall. Masa kecilku kulewati dengan bahagia dan tiada kurang suatu apapun. Kami tumbuh seperti anak- anak lainnya.
Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Tanpa terasa dua belas tahun sudah persahabatan kami terjalin. Berbagai suka duka telah kami lewati bersama. Aku tumbuh menjadi pemuda yang tampan dengan  rambut agak kecoklatan seperti papaku dan tinggi badan yang ideal yang selalu dilirik tiap gadis ketika aku lewat (tidak bermaksud menyombong lho)dan cerdas.
Livia dan Dini juga sama. Mereka berdua menjadi gadis yang cantik. Livia memiliki rambut yang panjang dengan kedua bola mata kecoklatan yang indah dan lesung pipi di kedua belah pipinya. Sedangkan Dini berambut pendek sebahu dengan model bob. Ia memiliki mata bulat yang berwarna hitam. Keduaya tidak tinggi, tidak pendek juga. Sedang- sedang lah. Mereka memiliki pesona khas di dalam dua tubuh yang berbeda.
Manisnya persahabatan kami seperti gula juga membuat iri mata yang memandang. Banyak yang memanggil kami trio jenius karena prestasi kami bertiga yang wah di antara murid- murid yang lain. Nilai kami selalu berada di puncak. Berbagai perlombaan yang kami ikuti selalu memberikan hasil yang memuaskan. Indahnya hidup ini.
RRR
Aku merasa ada perasaan aneh yang muncul ketika aku berdekatan dengan sahabatku, Livia. Aku dag dig dug kala ia berdiri di sampingku (entah ia mendengarnya atau tidak) dan terkadang bisa salah tingkah. Namun aku ingin selalu dekat dengannya, padahal kami kan sahabat. Tidak cukup dekatkah hubungan kami? Aku ingin yang berbeda.  Astaga, apakah aku jatuh cinta kepada Livia? Kurasa iya. Rasanya aku ingin segera mengatakannya kepada Livia bahwa aku ingin hubungan kami lebih dari sahabat. Namun aku belum memiliki keberanian itu. Aku ingin tahu apakah Livia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku atau tidak.
Mau menceritakan kepada Dini, aku malu. Meskipun kami adalah sahabat (yang kata orang kita bisa saling curhat) tapi aku merasa canggung untuk membicarakan masalah percintaan dengan mereka berdua. Selama ini kami pun tidak pernah menyinggung masalah percintaan. Ada baiknya juga memiliki sebuah rahasia,pikirku.
RRR
Sejak aku mengetahui bahwa aku telah jatuh cinta kepada Livia, aku selalu memberi perhatian lebih padanya ketika kami berdua yaitu saat ketika kami sedang berada di kelas. Ya, Dini tidak lagi sekelas denganku dan Livia. Ia memilih jurusan IPA sedangkan kami memilih jurusan IPS. Padahal nilai kami bagus dan lebih dari cukup untuk mengambil jurusan ilmu alam tetapi kami menolak saran dari para guru. Jadilah kami sekelas disini. Livia duduk di sampingku.
“Van, nanti siang kita ke toko buku ya,” ajak Livia suatu hari saat istirahat.
“Oke. Nggak mau langsung dari sekolah aja? Kita kan bisa makan siang sekalian di mall,” usulku
“Boleh juga. Kalau gitu, sekarang kita ke kelas Dini yuk, kasih tahu dia dulu,” ajaknya sambil bangkit dari bangku kami.
Aku meraih tangan Livia, “kalau Dini tidak diajak bagaimana?”
“Kenapa Van? Dini kan selalu ikut kita. Kamu nggak lagi berantem kan sama dia?”
Aku menggeleng.
“Ya sudah kalau begitu. Yuk,” ajaknya sekali lagi.
“Kamu duluan ya, Liv. Aku mau ke toilet dulu. Nanti aku nyusul,”
“Oke” jawab Livia singkat lalu meninggalkanku.
Aku merasa senang ketika Livia mengajakku ke toko buku untuk mencari buku yang kami perlukan untuk kelas Geografi minggu depan. Namun aku merasa sedikit keberatan ketika ia bilang ia juga mengajak Dini. Sebenarnya tidak salah karena kemanapun kami pergi, kami selalu bertiga. Astaga, karena cinta aku sudah menjadi egois. Cepat- cepat kuenyahkan pikiranku yang kacau itu dan berjalan menuju toilet.
RRR
Aku bersahabat dengan Evan dan Dini sudah lama. Lebih dari separuh hidupku. Hingga kini kami duduk di kelas tiga SMA. Namun seiring dengan kedekatan kami dan berjalannya waktu, aku menganggap Evan lebih dari sahabatku. Aku menyadari aku jatuh cinta kepada Evan ketika kami duduk di kelas satu. Sejak itu aku diam- diam memperhatikannya. Sekarang dengan dia duduk di sampingku, aku merasa senang.
Aku merasa kedekatanku dengan Evan selama ini lah yang membuat aku bisa jatuh cinta kepadanya. Kata orang kedekatan bisa menumbuhkan cinta. Dan itu benar. Jujur aku ingin Evan merasakan hal yang sama. Namun aku tidak berani berharap banyak. Bisa menjadi sahabat Evan aku sudah sangat senang. Biar rasa ini kupendam sendiri. Aku takut jika Evan tidak memiliki perasaan yang sama, persahabatan kami akan rusak. Jadi biarlah semuanya berjalan seperti biasa.
RRR
Aku naksir Evan. Aku jatuh cinta padanya. Dia cowok yang sempurna bagiku. Dia memiliki segalanya. Namun yang membuat aku menyukainya bukan semua kelebihan fisiknya. Aku mencintai dia apa adanya. Apakah Evan mencintaiku juga? Selama ini kami bertiga tidak pernah membahas masalah hati kami. Tapi aku yakin jika aku lebih bersabar dan lebih memperhatikan Evan, Evan akan membalas cintaku.
Kebetulan hari ini Livia datang ke kelasku. Aku menceritakan kepadanya mengenai perasaanku terhadap Evan.
“Kamu yakin Din dengan perasaan kamu?”
“Seratus persen aku yakin Liv. Cuma si Evan entah suka gak ya sama aku. Dia nggak pernah curhat tentang cinta nih sama kita,”
“Mungkin dia malu. Ngomong- ngomong Din, nanti siang ke mall yuk. Aku dan Evan mau nyari buku,”
“Mungkin juga. Ayo, sekalian juga pedekate sama si Evan. Hi hi,” aku bersemangat ketika menerima ajakan Livia.
Sebenarnya aku tidak perlu segembira itu karena aku bisa bertemu dengan Evan kapan pun aku mau. Tapi yang namanya jatuh cinta, mendengar namanya saja toh sudah bisa membuatku senang seperti orang menang lotere.
“Ya sudah Din. Bentar lagi bel. Aku balik dulu ya. Dah, ” ucap Livia berpamitan padaku.
“Dah,” balasku sambil melambaikan tanganku.


Bersambung ke Diari Tiga Sahabat II

Kepergianmu





Rama bergerak perlahan mendekati kekasihnya, Judith, dan berkata, “jangan menangis kasih. Tahukah kamu betapa aku sangat ingin kembali ke sisimu.”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Judith. Yang terdengar hanya isakan tangisnya dan tangisan langit yang sudah mulai membasahi  bumi.

“Kumohon sayang, jangan seperti ini. Pulanglah ke rumah. Hujan akan membuatmu jatuh sakit, ” pinta Rama.
Usaha Rama sia- sia. Judith masih tidak menghiraukan Rama. Pikirannya melayang- layang sendiri. Masih menangis. Ia bangkit berdiri setelah ibunya memayunginya dan membujuknya pulang. Lalu keduanya berjalan meninggalkan pusara yang berukirkan nama RAMA WIDIANTO. 

My (first) Post

Halo semua..
Blog ini merupakan blog kedua saya setelah blog buku saya sebelumnya. Berbeda dengan blog buku saya, blog ini akan saya isi dengan cerita- cerita ataupun puisi yang saya tulis. Cerita- cerita ini 95% fiksi (ada beberapa yang terinspirasi dari kejadian sehari- hari). Rata- rata bergenre romance.

Awalnya isi blog saya digabung. Tetapi karena ingin fokus di satu- satu bidang, maka saya memisah blog saya menjadi dua. Well, karena blog ini masih baru, tidak banyak yang bisa saya kenalkan. Selanjutnya, saya harap para pengunjung blog saya dapat menikmati isi blog saya.

Salam blogger :)