Thursday, July 26, 2012

Diari Tiga Sahabat II


Aku tidak salah dengar. Dini dan aku jatuh cinta pada lelaki yang sama. Sahabat kami sendiri. Aku tahu kedengarannya aneh. Namun ini hak kami. Cinta datang tanpa ada yang bisa menghalangi. Akan tetapi salahkah aku bila aku cemas? Biarlah waktu yang menjawabnya.
“Liv,” panggil Evan sambil mengguncang ringan bahuku. Membuyarkan lamunanku.
“Kamu lagi ngelamunin apa? Yuk, udah waktunya kita pergi,”
Aku menggeleng saja dan mengikuti Evan. Sudah waktunya pulang sekolah. Seperti rencana semula, kami pergi ke toko buku. Sebelumnya, kami mampir dulu ke kelas Dini biar bisa turun bersama. Alangkah terkejutnya kami mendengar bahwa Dini sudah pulang duluan. Kata Arina, teman sebangkunya, Dini sakit kepala.
“Iyah, tadi dia sakit kepala. Awalnya dia sih nggak mau pulang. Cuma aku liat sakit kepala Dini gak hilang, daripada dia nahan sakit terus dan nggak konsen, tadi aku bawa dia minta izin. Akhirnya dia pulang tadi,”  tutur Arina.
“Oh. Makasih ya Rin buat infonya,” ujar Evan.
“Van, kita batalkan saja acara ke toko bukunya. Aku khawatir sama Dini,”
“Iya sama. Bentar aku telepon Dini dulu,”
Tut tut. Tidak ada jawaban dari seberang sana. Aku dan Evan langsung pulang. Kami langsung menuju ke rumah Dini. Dini tengah berada di kamarnya. Ia sedang tidur. Aku dan Evan tidak mau mengganggunya. Kami pun menutup pelan pintu kamar Dini dan pulang ke rumah kami masing- masing.
Ketika aku hendak berjalan ke arah rumahku, Evan meraih tanganku.
“Kenapa Van?” tanyaku
Evan tidak menjawab pertanyaanku. Ia menatapku. Dalam. Aku merasa seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
“Van?” panggilku.
“Aku suka sama kamu, Liv,” ucapnya jelas.
“Maksud kamu, Van?”
“Aku suka sama kamu, Liv. Aku tau kita sahabatan. Tapi rasa cinta ini muncul dengan sendirinya. Awalnya aku ingin menunggu. Namun aku juga takut kesempatan itu hilang. Jadi, maukah kamu menjadi kekasihku, Liv?”
Aku terkejut. Ternyata perhatian Evan terhadapku selama ini bukan hanya sebatas perhatian seorang sahabat. Ia memiliki perasaan yang sama juga denganku. Kami berdua saling mencintai. Seharusnya aku bahagia. Namun aku tidak bisa begitu saja menerima Evan. Ingat, aku dan Dini mencintai lelaki yang sama. Aku tidak mau jembatan persahabatan kami hancur hanya karena terjangan cinta. Aku tidak boleh egois.
“Livia? Kamu ngelamunin apa?” suara Evan lagi-lagi membuyarkan lamunanku.
“Aku nggak bisa, Van. Di…” ups, hampir saja aku bilang kepada Evan kalau Dini suka Evan.
“Dini? Dini kenapa?”
“Di.. Dini kan sedang sakit. Masak kita ngomongin hal ini. Lagipula aku nggak bisa jadi kekasihmu. Kita hanya sahabat,” elakku dengan mengarang- ngarang sebuah alasan.
“Kamu bohong, Liv. Aku bisa lihat dari mata kamu. Kamu juga suka aku kan? Aku kenal kamu bukan baru lima bulan ini. Aku sudah kenal kamu dua belas tahun dan aku tahu kamu paling gak pinter bohong. Dan mengenai Dini, aku rasa dia bakalan seneng kalo kita jadian,”
“Nggak! Dini nggak bakalan….” buru- buru aku mengerem ucapanku.
Nggak bakalan apa maksud kamu, Liv?”
“Ng..nggak. Maksudku kan dia lagi sakit. Ya gak pas saja lah,”
“Tuh kan. Kamu bohong lagi. Ngomong terus terang sama aku. Ada apa dengan Dini?”
Aku kalah. Aku tidak sanggup menyembunyikan hal ini dari Evan. Lalu aku pun bercerita mengenai perasaan Dini terhadapnya.
“Kalau begitu, aku akan bilang langsung ke Dini,” tegas Evan
“Jangan dulu, Van. Aku takut nanti dia sedih. Lagipula Dini masih sakit. Kita tunggu waktu yang pas ya. Pliss.. ”
“Oke deh. ”
RRR
Aku sakit kepala lagi. Kali ini entah sudah yang keberapa kali laginya. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi. Aku yang sudah tidak tahan lagi kemudian menceritakan hal ini kepada Mama dan beliau membawaku ke dokter. Dokter menyarankanku untuk menjalani serangkaian tes. Sebenarnya aku tidak mau. Seperti orang berpenyakit saja, pikirku.
Sepuluh hari kemudian…
Hasil tes membuatku seolah- olah kehilangan duniaku. Aku divonis menderita kanker otak. Kaget. Sedih. Takut. Kata dokter, masih sempat jika mau diobati. Masih stadium awal. Mama lebih kaget. Namun berusaha untuk tetap terlihat tegar agar aku tidak shock.
Aku sendiri tidak menyangka di usia mudaku aku harus ‘bermain’ dengan penyakit ini. Aku belum siap untuk kehilangan keluargaku, teman- temanku. Meninggalkan segalanya yang terlalu indah.
RRR
Aku belum memberitahukan  kepada kedua sahabatku mengenai penyakitku. Entah reaksi apa yang akan mereka tunjukkan ketika aku memberitahu mereka. Namun aku juga tidak boleh menyimpan ini sendirian. Mereka berdua sahabatku. Mereka berhak tahu apa yang terjadi denganku.
Aku bertanya kepada Mama apakah aku boleh menunda pengobatan hingga aku lulus SMA nanti. Dan jawaban dari Mama sudah kuduga. Mama tidak mengizinkanku. Tapi aku terus memohon.
“Plis ya ma. Tinggal beberapa bulan aja kok. Aku pengen melewati masa- masa indah di SMA, Ma” pintaku.
“Tapi pengobatan kamu penting, sayang. Ini demi kesehatanmu. Lebih cepat kan lebih baik,”
“Iyah sih Ma. Aku janji deh, Ma. Setelah UN, aku langsung ke Singapur. Lagipula kata dokter, untuk sementara kalau aku masih mau disini nggak apa- apa. Aku bakal rajin control deh Ma. Ya ? pliss….”
Akhirnya Mama luluh juga dengan syarat aku harus rajin periksa ke dokter, rajin minum obat, dan tidak boleh kecapekan.
RRR
Akhirnya Dini bisa kembali ke sekolah besok. Hari ini aku dan Evan main ke rumah Dini. Dini sudah kelihatan agak sehat hanya saja masih sedikit pucat.
“Wah, libur panjang ya kamu, Din,” goda Evan.
“Ya donk. Namanya juga orang sakit. O iya, aku mau  ngomong sesuatu nih sama kalian berdua,” jawab Dini kemudian melanjutkan kata- katanya dengan nada serius dan agak tegang.
“Ada apa, Din?” tanyaku. Perasaanku tidak enak. Sepertinya bukan hal baik.
“Aku gak bakalan lama lagi disini, Liv, Van,”
“Loh, kenapa? Kamu mau lanjut kuliah ke luar kota? Atau keluar negeri?” tebak Evan.
“Bukan. Aku kena kanker otak. Masih stadium awal dan sel- sel kankernya belum menyebar. Jadi masih aman lah untuk sementara ini,” tutur Dini.
Aku dan Evan kontan shock. Tidak menyangka hal ini akan menimpa sahabat kami. Dini lalu menceritakan semuanya kepada kami. Di satu sisi, aku ingin Dini segera pergi berobat ke Singapura agar dia bisa lekas sembuh. Namun di sisi lain aku juga mendukung keputusannya untuk tetap di Medan karena berat rasanya jika berpisah dengan dia secara mendadak.
Kini kami harus berpacu dengan waktu. Melewati momen- momen terakhir ini dengan bahagia. Dan jika hari itu telah tiba, aku dan Evan akan mendoakan Dini. Pasti.
Rasanya aku tahu bagaimana membuat Dini merasa bahagia. Dengan mewujudkan impiannya.
RRR
Aku sedih sekali mendengar sahabatku harus terserang penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawanya. Dini sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Namun aku harus tetap menunjukkan ekspresi gembira dan tetap menyemangati Dini. Aku tidak boleh sedih di hadapannya. Apalagi Dini begitu menghargai persahabatan kami. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.
RRR
Rasanya aku baru saja bermimpi. Mimpi buruk. Akan tetapi kenyataan menyadarkanku. Ini nyata. Salah satu sahabat terbaikku akan meninggalkan aku dan Evan sebentar lagi. Dini bukan pergi untuk berlibur ataupun studi ke luar negeri. Ia akan menjalani pengobatan disana. Bertarung melawan ganasnya kanker.
Aku meng-sms Evan agar dia datang ke rumahku agak sorenya, setelah kami pulang dari rumah Dini. Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin agar dia bisa menjadi hadiah terindah bagi Dini sebelum Dini berangkat ke Singapura untuk menjalani pengobatan.
Tok tok tok..
“Ya, masuk,” aku memberi jawaban agar yang mengetuk pintu bisa masuk. Ternyata Mbok Arni.
“Non, ada Mas Evan di bawah,” ujarnya.
“Oh. Okeh, Mbok. Makasih ya,”
Aku segera turun ke bawah untuk menemui Evan. Aku agak tegang sebenarnya. Namun ini harus kuungkapkan sekarang. Aku tidak mau terlambat.
“Hi, Van,” sapaku berusaha untuk tetap tenang.
“Hi, Liv. Tadi di sms kamu bilang ada yang mau kamu omongin ya? Tentang apa, Liv? Tentang Dini ya?”
Aku menggangguk. Mengambil posisi duduk di samping Evan agar aku tidak menatap matanya langsung.
“Tentang Dini, Van. Kamu tahu kan perasaan Dini terhadap kamu?”
Evan menggangguk kemudian melanjutkan, “lalu?”
“Aku ingin kamu bersamanya, Van…” aku berusaha mengucapkannya dengan mantap.
“Apa, Liv? Aku nggak salah dengar?”
“Iya, Van. Ini demi kebaikan kita. Aku hanya ingin Dini bahagia sebelum ia pergi. Pliss Van….” pintaku.
“Tapi aku hanya mencintaimu, Liv. Kamu tahu itu dan aku tahu rasa yang kamu miliki ke aku itu sama. Untuk apa kita melakukan hal yang pada akhirnya akan melukai kita, Liv?”
Aku terdiam.
“Maaf, Liv. Mungkin aku terdengar egois,” ucapnya lirih sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
“Tapi aku ingin agar Dini bisa lebih menikmati momen- momen terakhirnya. Kumohon, Van. Setidaknya kita coba dulu, ya,”
Aku terus memohon agar Evan bersedia untuk menjadi kekasih Dini. Akhirnya ia bersedia juga.
“Baiklah kalau itu yang kamu mau, Liv. Hanya aku ingin kamu tahu hatiku hanya selalu untukmu. Aku akan melakukan ini demi sahabat kita. Oke?” Evan mengucapkannya dengan tulus dan tanpa sadar hal ini membuat air mata menetes dari pelupuk mataku. Aku menggenggam tangannya erat.
RRR
Aku akan melakukan hal yang bertentangan dengan hatiku. Namun begitu nuraniku masih bernafas. Aku tidak tega melihat kedua sahabatku menderita. Dini yang memendam perasaan padaku sementara dia sendiri sedang sakit dan Livia yang memohon- mohon karena dia sangat ingin melihat Dini tersenyum bahagia. Semua akan kulakukan demi sahabat. Semoga semuanya dapat berjalan dan berakhir dengan bahagia. Semoga.
RRR
Tiga minggu berlalu sejak aku ‘berdiskusi’ dengan Evan. Kini Evan telah menjadi kekasih Dini. Perih? Tentu ada. Namun aku tidak mau terlalu ambil pusing. Yang terpenting adalah kebahagiaan Dini. Aku tidak ingin Dini membenciku jika ia tahu aku mencintai Evan. Aku ingin agar persahabatan kami abadi selamanya.
RRR
Aku melewati sisa- sisa waktuku bersama kedua sahabatku dengan hampir sempurna. Dua minggu yang lalu, Evan menyatakan perasaannya kepadaku. Awalnya aku senang. Evan pun sangat perhatian kepadaku. Ia selalu singgah ke kelasku ketika waktu istirahat tiba. Ia juga rutin mendatangi rumahku tiap sore. Entah untuk mengerjakan PR ataupun hanya sekadar untuk menanyakan keadaanku. Malam minggu kami lewati layaknya sepasang kekasih.
Namun aku bukanlah anak kecil yang hanya bisa menerima dengan polos. Aku tahu bahwa Evan tidak sungguh- sungguh mencintaiku. Ketika kami bertiga berkumpul, aku melihat sorot matanya yang begitu hangat terhadap Livia. Begitu teduh. Begitu pula sebaliknya. Mungkin Livia dan Evan ingin membahagiakanku.
Aku seharusnya bersyukur memiliki sahabat seperti Livia dan Evan. Seharusnya aku memutuskan hubungan dengan Evan. Tapi aku jahat. Aku malah meneruskan hubungan ini. Aku tidak kuasa menahan perasaanku sendiri. Biarlah kepalsuan ini diteruskan sebentar lagi. Sebelum aku pergi dan tak tahu kapan aku bisa kembali lagi. Mungkin saja aku tidak akan pernah kembali lagi.
RRR
Tiada pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan. Cepat atau lambat perpisahan ini harus terjadi. Tanpa terasa sudah hampir dua bulan aku menunda pengobatanku. Kini studiku di bangku SMA telah kuselesaikan. Saatnya aku meninggalkan Indonesia dan memulai pertarunganku melawan kanker ini.  

Bersambung ke

No comments:

Post a Comment