Thursday, July 26, 2012

Diari Tiga Sahabat


Aku, Livia, dan Dini. Kami bertiga tumbuh bersama. Bermain bersama. Ke sekolah bersama. Semuanya dilakukan bersama. Persahabatan kami kokoh tetapi sedikit retak ketika sesuatu bernama cinta itu muncul dan kami tidak dapat menolak apalagi membuang cinta yang bersemi dalam hati kami masing- masing. Namun selalu ada solusi. Pengorbanan datang dari sahabat yang tulus menyayangi sahabatnya yang lain.
RRR
Aku pindah ke kompleks Livia dan Dini ketika aku duduk di kelas satu SD. Segera saja aku si anak baru ini mencari teman. Dini dan Livia lah yang menjadi teman dekatku. Kebetulan kami satu kompleks, satu sekolah, dan satu kelas. Aku rasa ini bukan kebetulan biasa. Namun tahu apalah aku saat itu.
Setiap hari aku berangkat ke sekolah bersama dengan mereka. Sekalian jalan, begitu kata Mama Dini. Aku sih oke saja. Sepulang sekolah kami mengerjakan tugas bersama. Ketika bermain pun aku tidak merasa risih dengan alat masak- masakan milik kedua anak perempuan itu. Aku cepat beradaptasi. Dan seperti anak- anak lainnya pada waktu itu, setelah selesai mengerjakan tugas kami akan bermain bersama. Kadang-kadang di rumahku, kadang- kadang di rumah Dini ataupun di rumah Livia. Bergantian lah. Ini tidak sulit mengingat rumah kami (yang kebetulan lagi) berdempetan. Masuk dari gerbang utama, rumah Livia duluan sampai kemudian tepat di sebelahnya adalah rumahku dan di sebelah rumahku lah rumah Dini berada.
Tidak selamanya kami bermain masak- masakan. Terkadang kami menaiki sepeda mengelilingi kompleks. Ketika sedang tidak sibuk, Mama Dini membawa kami jalan- jalan ke mall. Masa kecilku kulewati dengan bahagia dan tiada kurang suatu apapun. Kami tumbuh seperti anak- anak lainnya.
Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Tanpa terasa dua belas tahun sudah persahabatan kami terjalin. Berbagai suka duka telah kami lewati bersama. Aku tumbuh menjadi pemuda yang tampan dengan  rambut agak kecoklatan seperti papaku dan tinggi badan yang ideal yang selalu dilirik tiap gadis ketika aku lewat (tidak bermaksud menyombong lho)dan cerdas.
Livia dan Dini juga sama. Mereka berdua menjadi gadis yang cantik. Livia memiliki rambut yang panjang dengan kedua bola mata kecoklatan yang indah dan lesung pipi di kedua belah pipinya. Sedangkan Dini berambut pendek sebahu dengan model bob. Ia memiliki mata bulat yang berwarna hitam. Keduaya tidak tinggi, tidak pendek juga. Sedang- sedang lah. Mereka memiliki pesona khas di dalam dua tubuh yang berbeda.
Manisnya persahabatan kami seperti gula juga membuat iri mata yang memandang. Banyak yang memanggil kami trio jenius karena prestasi kami bertiga yang wah di antara murid- murid yang lain. Nilai kami selalu berada di puncak. Berbagai perlombaan yang kami ikuti selalu memberikan hasil yang memuaskan. Indahnya hidup ini.
RRR
Aku merasa ada perasaan aneh yang muncul ketika aku berdekatan dengan sahabatku, Livia. Aku dag dig dug kala ia berdiri di sampingku (entah ia mendengarnya atau tidak) dan terkadang bisa salah tingkah. Namun aku ingin selalu dekat dengannya, padahal kami kan sahabat. Tidak cukup dekatkah hubungan kami? Aku ingin yang berbeda.  Astaga, apakah aku jatuh cinta kepada Livia? Kurasa iya. Rasanya aku ingin segera mengatakannya kepada Livia bahwa aku ingin hubungan kami lebih dari sahabat. Namun aku belum memiliki keberanian itu. Aku ingin tahu apakah Livia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku atau tidak.
Mau menceritakan kepada Dini, aku malu. Meskipun kami adalah sahabat (yang kata orang kita bisa saling curhat) tapi aku merasa canggung untuk membicarakan masalah percintaan dengan mereka berdua. Selama ini kami pun tidak pernah menyinggung masalah percintaan. Ada baiknya juga memiliki sebuah rahasia,pikirku.
RRR
Sejak aku mengetahui bahwa aku telah jatuh cinta kepada Livia, aku selalu memberi perhatian lebih padanya ketika kami berdua yaitu saat ketika kami sedang berada di kelas. Ya, Dini tidak lagi sekelas denganku dan Livia. Ia memilih jurusan IPA sedangkan kami memilih jurusan IPS. Padahal nilai kami bagus dan lebih dari cukup untuk mengambil jurusan ilmu alam tetapi kami menolak saran dari para guru. Jadilah kami sekelas disini. Livia duduk di sampingku.
“Van, nanti siang kita ke toko buku ya,” ajak Livia suatu hari saat istirahat.
“Oke. Nggak mau langsung dari sekolah aja? Kita kan bisa makan siang sekalian di mall,” usulku
“Boleh juga. Kalau gitu, sekarang kita ke kelas Dini yuk, kasih tahu dia dulu,” ajaknya sambil bangkit dari bangku kami.
Aku meraih tangan Livia, “kalau Dini tidak diajak bagaimana?”
“Kenapa Van? Dini kan selalu ikut kita. Kamu nggak lagi berantem kan sama dia?”
Aku menggeleng.
“Ya sudah kalau begitu. Yuk,” ajaknya sekali lagi.
“Kamu duluan ya, Liv. Aku mau ke toilet dulu. Nanti aku nyusul,”
“Oke” jawab Livia singkat lalu meninggalkanku.
Aku merasa senang ketika Livia mengajakku ke toko buku untuk mencari buku yang kami perlukan untuk kelas Geografi minggu depan. Namun aku merasa sedikit keberatan ketika ia bilang ia juga mengajak Dini. Sebenarnya tidak salah karena kemanapun kami pergi, kami selalu bertiga. Astaga, karena cinta aku sudah menjadi egois. Cepat- cepat kuenyahkan pikiranku yang kacau itu dan berjalan menuju toilet.
RRR
Aku bersahabat dengan Evan dan Dini sudah lama. Lebih dari separuh hidupku. Hingga kini kami duduk di kelas tiga SMA. Namun seiring dengan kedekatan kami dan berjalannya waktu, aku menganggap Evan lebih dari sahabatku. Aku menyadari aku jatuh cinta kepada Evan ketika kami duduk di kelas satu. Sejak itu aku diam- diam memperhatikannya. Sekarang dengan dia duduk di sampingku, aku merasa senang.
Aku merasa kedekatanku dengan Evan selama ini lah yang membuat aku bisa jatuh cinta kepadanya. Kata orang kedekatan bisa menumbuhkan cinta. Dan itu benar. Jujur aku ingin Evan merasakan hal yang sama. Namun aku tidak berani berharap banyak. Bisa menjadi sahabat Evan aku sudah sangat senang. Biar rasa ini kupendam sendiri. Aku takut jika Evan tidak memiliki perasaan yang sama, persahabatan kami akan rusak. Jadi biarlah semuanya berjalan seperti biasa.
RRR
Aku naksir Evan. Aku jatuh cinta padanya. Dia cowok yang sempurna bagiku. Dia memiliki segalanya. Namun yang membuat aku menyukainya bukan semua kelebihan fisiknya. Aku mencintai dia apa adanya. Apakah Evan mencintaiku juga? Selama ini kami bertiga tidak pernah membahas masalah hati kami. Tapi aku yakin jika aku lebih bersabar dan lebih memperhatikan Evan, Evan akan membalas cintaku.
Kebetulan hari ini Livia datang ke kelasku. Aku menceritakan kepadanya mengenai perasaanku terhadap Evan.
“Kamu yakin Din dengan perasaan kamu?”
“Seratus persen aku yakin Liv. Cuma si Evan entah suka gak ya sama aku. Dia nggak pernah curhat tentang cinta nih sama kita,”
“Mungkin dia malu. Ngomong- ngomong Din, nanti siang ke mall yuk. Aku dan Evan mau nyari buku,”
“Mungkin juga. Ayo, sekalian juga pedekate sama si Evan. Hi hi,” aku bersemangat ketika menerima ajakan Livia.
Sebenarnya aku tidak perlu segembira itu karena aku bisa bertemu dengan Evan kapan pun aku mau. Tapi yang namanya jatuh cinta, mendengar namanya saja toh sudah bisa membuatku senang seperti orang menang lotere.
“Ya sudah Din. Bentar lagi bel. Aku balik dulu ya. Dah, ” ucap Livia berpamitan padaku.
“Dah,” balasku sambil melambaikan tanganku.


Bersambung ke Diari Tiga Sahabat II

No comments:

Post a Comment