Saturday, July 28, 2012

Bulan Tanpa Kenangan

Tidak selamanya matahari akan berada di atasmu..
Ketika matahari terbenam, selalu ada bulan..
Ketika api cinta ini padam..
Cahaya bulan menerangi malam yang gelap..
Menerangi hati yang kelam..
Bulan memahami lebih dari apa yang hati tahu..
Namun hati akan  melupakannya..
Berusaha meraih matahari yang takkan kembali..
Dan terjebak dalam bayang semu sang matahari..


j8mujj

Thursday, July 26, 2012

Diari Tiga Sahabat II


Aku tidak salah dengar. Dini dan aku jatuh cinta pada lelaki yang sama. Sahabat kami sendiri. Aku tahu kedengarannya aneh. Namun ini hak kami. Cinta datang tanpa ada yang bisa menghalangi. Akan tetapi salahkah aku bila aku cemas? Biarlah waktu yang menjawabnya.
“Liv,” panggil Evan sambil mengguncang ringan bahuku. Membuyarkan lamunanku.
“Kamu lagi ngelamunin apa? Yuk, udah waktunya kita pergi,”
Aku menggeleng saja dan mengikuti Evan. Sudah waktunya pulang sekolah. Seperti rencana semula, kami pergi ke toko buku. Sebelumnya, kami mampir dulu ke kelas Dini biar bisa turun bersama. Alangkah terkejutnya kami mendengar bahwa Dini sudah pulang duluan. Kata Arina, teman sebangkunya, Dini sakit kepala.
“Iyah, tadi dia sakit kepala. Awalnya dia sih nggak mau pulang. Cuma aku liat sakit kepala Dini gak hilang, daripada dia nahan sakit terus dan nggak konsen, tadi aku bawa dia minta izin. Akhirnya dia pulang tadi,”  tutur Arina.
“Oh. Makasih ya Rin buat infonya,” ujar Evan.
“Van, kita batalkan saja acara ke toko bukunya. Aku khawatir sama Dini,”
“Iya sama. Bentar aku telepon Dini dulu,”
Tut tut. Tidak ada jawaban dari seberang sana. Aku dan Evan langsung pulang. Kami langsung menuju ke rumah Dini. Dini tengah berada di kamarnya. Ia sedang tidur. Aku dan Evan tidak mau mengganggunya. Kami pun menutup pelan pintu kamar Dini dan pulang ke rumah kami masing- masing.
Ketika aku hendak berjalan ke arah rumahku, Evan meraih tanganku.
“Kenapa Van?” tanyaku
Evan tidak menjawab pertanyaanku. Ia menatapku. Dalam. Aku merasa seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
“Van?” panggilku.
“Aku suka sama kamu, Liv,” ucapnya jelas.
“Maksud kamu, Van?”
“Aku suka sama kamu, Liv. Aku tau kita sahabatan. Tapi rasa cinta ini muncul dengan sendirinya. Awalnya aku ingin menunggu. Namun aku juga takut kesempatan itu hilang. Jadi, maukah kamu menjadi kekasihku, Liv?”
Aku terkejut. Ternyata perhatian Evan terhadapku selama ini bukan hanya sebatas perhatian seorang sahabat. Ia memiliki perasaan yang sama juga denganku. Kami berdua saling mencintai. Seharusnya aku bahagia. Namun aku tidak bisa begitu saja menerima Evan. Ingat, aku dan Dini mencintai lelaki yang sama. Aku tidak mau jembatan persahabatan kami hancur hanya karena terjangan cinta. Aku tidak boleh egois.
“Livia? Kamu ngelamunin apa?” suara Evan lagi-lagi membuyarkan lamunanku.
“Aku nggak bisa, Van. Di…” ups, hampir saja aku bilang kepada Evan kalau Dini suka Evan.
“Dini? Dini kenapa?”
“Di.. Dini kan sedang sakit. Masak kita ngomongin hal ini. Lagipula aku nggak bisa jadi kekasihmu. Kita hanya sahabat,” elakku dengan mengarang- ngarang sebuah alasan.
“Kamu bohong, Liv. Aku bisa lihat dari mata kamu. Kamu juga suka aku kan? Aku kenal kamu bukan baru lima bulan ini. Aku sudah kenal kamu dua belas tahun dan aku tahu kamu paling gak pinter bohong. Dan mengenai Dini, aku rasa dia bakalan seneng kalo kita jadian,”
“Nggak! Dini nggak bakalan….” buru- buru aku mengerem ucapanku.
Nggak bakalan apa maksud kamu, Liv?”
“Ng..nggak. Maksudku kan dia lagi sakit. Ya gak pas saja lah,”
“Tuh kan. Kamu bohong lagi. Ngomong terus terang sama aku. Ada apa dengan Dini?”
Aku kalah. Aku tidak sanggup menyembunyikan hal ini dari Evan. Lalu aku pun bercerita mengenai perasaan Dini terhadapnya.
“Kalau begitu, aku akan bilang langsung ke Dini,” tegas Evan
“Jangan dulu, Van. Aku takut nanti dia sedih. Lagipula Dini masih sakit. Kita tunggu waktu yang pas ya. Pliss.. ”
“Oke deh. ”
RRR
Aku sakit kepala lagi. Kali ini entah sudah yang keberapa kali laginya. Sakitnya pun semakin menjadi-jadi. Aku yang sudah tidak tahan lagi kemudian menceritakan hal ini kepada Mama dan beliau membawaku ke dokter. Dokter menyarankanku untuk menjalani serangkaian tes. Sebenarnya aku tidak mau. Seperti orang berpenyakit saja, pikirku.
Sepuluh hari kemudian…
Hasil tes membuatku seolah- olah kehilangan duniaku. Aku divonis menderita kanker otak. Kaget. Sedih. Takut. Kata dokter, masih sempat jika mau diobati. Masih stadium awal. Mama lebih kaget. Namun berusaha untuk tetap terlihat tegar agar aku tidak shock.
Aku sendiri tidak menyangka di usia mudaku aku harus ‘bermain’ dengan penyakit ini. Aku belum siap untuk kehilangan keluargaku, teman- temanku. Meninggalkan segalanya yang terlalu indah.
RRR
Aku belum memberitahukan  kepada kedua sahabatku mengenai penyakitku. Entah reaksi apa yang akan mereka tunjukkan ketika aku memberitahu mereka. Namun aku juga tidak boleh menyimpan ini sendirian. Mereka berdua sahabatku. Mereka berhak tahu apa yang terjadi denganku.
Aku bertanya kepada Mama apakah aku boleh menunda pengobatan hingga aku lulus SMA nanti. Dan jawaban dari Mama sudah kuduga. Mama tidak mengizinkanku. Tapi aku terus memohon.
“Plis ya ma. Tinggal beberapa bulan aja kok. Aku pengen melewati masa- masa indah di SMA, Ma” pintaku.
“Tapi pengobatan kamu penting, sayang. Ini demi kesehatanmu. Lebih cepat kan lebih baik,”
“Iyah sih Ma. Aku janji deh, Ma. Setelah UN, aku langsung ke Singapur. Lagipula kata dokter, untuk sementara kalau aku masih mau disini nggak apa- apa. Aku bakal rajin control deh Ma. Ya ? pliss….”
Akhirnya Mama luluh juga dengan syarat aku harus rajin periksa ke dokter, rajin minum obat, dan tidak boleh kecapekan.
RRR
Akhirnya Dini bisa kembali ke sekolah besok. Hari ini aku dan Evan main ke rumah Dini. Dini sudah kelihatan agak sehat hanya saja masih sedikit pucat.
“Wah, libur panjang ya kamu, Din,” goda Evan.
“Ya donk. Namanya juga orang sakit. O iya, aku mau  ngomong sesuatu nih sama kalian berdua,” jawab Dini kemudian melanjutkan kata- katanya dengan nada serius dan agak tegang.
“Ada apa, Din?” tanyaku. Perasaanku tidak enak. Sepertinya bukan hal baik.
“Aku gak bakalan lama lagi disini, Liv, Van,”
“Loh, kenapa? Kamu mau lanjut kuliah ke luar kota? Atau keluar negeri?” tebak Evan.
“Bukan. Aku kena kanker otak. Masih stadium awal dan sel- sel kankernya belum menyebar. Jadi masih aman lah untuk sementara ini,” tutur Dini.
Aku dan Evan kontan shock. Tidak menyangka hal ini akan menimpa sahabat kami. Dini lalu menceritakan semuanya kepada kami. Di satu sisi, aku ingin Dini segera pergi berobat ke Singapura agar dia bisa lekas sembuh. Namun di sisi lain aku juga mendukung keputusannya untuk tetap di Medan karena berat rasanya jika berpisah dengan dia secara mendadak.
Kini kami harus berpacu dengan waktu. Melewati momen- momen terakhir ini dengan bahagia. Dan jika hari itu telah tiba, aku dan Evan akan mendoakan Dini. Pasti.
Rasanya aku tahu bagaimana membuat Dini merasa bahagia. Dengan mewujudkan impiannya.
RRR
Aku sedih sekali mendengar sahabatku harus terserang penyakit yang bisa kapan saja merenggut nyawanya. Dini sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Namun aku harus tetap menunjukkan ekspresi gembira dan tetap menyemangati Dini. Aku tidak boleh sedih di hadapannya. Apalagi Dini begitu menghargai persahabatan kami. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.
RRR
Rasanya aku baru saja bermimpi. Mimpi buruk. Akan tetapi kenyataan menyadarkanku. Ini nyata. Salah satu sahabat terbaikku akan meninggalkan aku dan Evan sebentar lagi. Dini bukan pergi untuk berlibur ataupun studi ke luar negeri. Ia akan menjalani pengobatan disana. Bertarung melawan ganasnya kanker.
Aku meng-sms Evan agar dia datang ke rumahku agak sorenya, setelah kami pulang dari rumah Dini. Aku ingin bicara dengannya. Aku ingin agar dia bisa menjadi hadiah terindah bagi Dini sebelum Dini berangkat ke Singapura untuk menjalani pengobatan.
Tok tok tok..
“Ya, masuk,” aku memberi jawaban agar yang mengetuk pintu bisa masuk. Ternyata Mbok Arni.
“Non, ada Mas Evan di bawah,” ujarnya.
“Oh. Okeh, Mbok. Makasih ya,”
Aku segera turun ke bawah untuk menemui Evan. Aku agak tegang sebenarnya. Namun ini harus kuungkapkan sekarang. Aku tidak mau terlambat.
“Hi, Van,” sapaku berusaha untuk tetap tenang.
“Hi, Liv. Tadi di sms kamu bilang ada yang mau kamu omongin ya? Tentang apa, Liv? Tentang Dini ya?”
Aku menggangguk. Mengambil posisi duduk di samping Evan agar aku tidak menatap matanya langsung.
“Tentang Dini, Van. Kamu tahu kan perasaan Dini terhadap kamu?”
Evan menggangguk kemudian melanjutkan, “lalu?”
“Aku ingin kamu bersamanya, Van…” aku berusaha mengucapkannya dengan mantap.
“Apa, Liv? Aku nggak salah dengar?”
“Iya, Van. Ini demi kebaikan kita. Aku hanya ingin Dini bahagia sebelum ia pergi. Pliss Van….” pintaku.
“Tapi aku hanya mencintaimu, Liv. Kamu tahu itu dan aku tahu rasa yang kamu miliki ke aku itu sama. Untuk apa kita melakukan hal yang pada akhirnya akan melukai kita, Liv?”
Aku terdiam.
“Maaf, Liv. Mungkin aku terdengar egois,” ucapnya lirih sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
“Tapi aku ingin agar Dini bisa lebih menikmati momen- momen terakhirnya. Kumohon, Van. Setidaknya kita coba dulu, ya,”
Aku terus memohon agar Evan bersedia untuk menjadi kekasih Dini. Akhirnya ia bersedia juga.
“Baiklah kalau itu yang kamu mau, Liv. Hanya aku ingin kamu tahu hatiku hanya selalu untukmu. Aku akan melakukan ini demi sahabat kita. Oke?” Evan mengucapkannya dengan tulus dan tanpa sadar hal ini membuat air mata menetes dari pelupuk mataku. Aku menggenggam tangannya erat.
RRR
Aku akan melakukan hal yang bertentangan dengan hatiku. Namun begitu nuraniku masih bernafas. Aku tidak tega melihat kedua sahabatku menderita. Dini yang memendam perasaan padaku sementara dia sendiri sedang sakit dan Livia yang memohon- mohon karena dia sangat ingin melihat Dini tersenyum bahagia. Semua akan kulakukan demi sahabat. Semoga semuanya dapat berjalan dan berakhir dengan bahagia. Semoga.
RRR
Tiga minggu berlalu sejak aku ‘berdiskusi’ dengan Evan. Kini Evan telah menjadi kekasih Dini. Perih? Tentu ada. Namun aku tidak mau terlalu ambil pusing. Yang terpenting adalah kebahagiaan Dini. Aku tidak ingin Dini membenciku jika ia tahu aku mencintai Evan. Aku ingin agar persahabatan kami abadi selamanya.
RRR
Aku melewati sisa- sisa waktuku bersama kedua sahabatku dengan hampir sempurna. Dua minggu yang lalu, Evan menyatakan perasaannya kepadaku. Awalnya aku senang. Evan pun sangat perhatian kepadaku. Ia selalu singgah ke kelasku ketika waktu istirahat tiba. Ia juga rutin mendatangi rumahku tiap sore. Entah untuk mengerjakan PR ataupun hanya sekadar untuk menanyakan keadaanku. Malam minggu kami lewati layaknya sepasang kekasih.
Namun aku bukanlah anak kecil yang hanya bisa menerima dengan polos. Aku tahu bahwa Evan tidak sungguh- sungguh mencintaiku. Ketika kami bertiga berkumpul, aku melihat sorot matanya yang begitu hangat terhadap Livia. Begitu teduh. Begitu pula sebaliknya. Mungkin Livia dan Evan ingin membahagiakanku.
Aku seharusnya bersyukur memiliki sahabat seperti Livia dan Evan. Seharusnya aku memutuskan hubungan dengan Evan. Tapi aku jahat. Aku malah meneruskan hubungan ini. Aku tidak kuasa menahan perasaanku sendiri. Biarlah kepalsuan ini diteruskan sebentar lagi. Sebelum aku pergi dan tak tahu kapan aku bisa kembali lagi. Mungkin saja aku tidak akan pernah kembali lagi.
RRR
Tiada pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan. Cepat atau lambat perpisahan ini harus terjadi. Tanpa terasa sudah hampir dua bulan aku menunda pengobatanku. Kini studiku di bangku SMA telah kuselesaikan. Saatnya aku meninggalkan Indonesia dan memulai pertarunganku melawan kanker ini.  

Bersambung ke

Diari Tiga Sahabat


Aku, Livia, dan Dini. Kami bertiga tumbuh bersama. Bermain bersama. Ke sekolah bersama. Semuanya dilakukan bersama. Persahabatan kami kokoh tetapi sedikit retak ketika sesuatu bernama cinta itu muncul dan kami tidak dapat menolak apalagi membuang cinta yang bersemi dalam hati kami masing- masing. Namun selalu ada solusi. Pengorbanan datang dari sahabat yang tulus menyayangi sahabatnya yang lain.
RRR
Aku pindah ke kompleks Livia dan Dini ketika aku duduk di kelas satu SD. Segera saja aku si anak baru ini mencari teman. Dini dan Livia lah yang menjadi teman dekatku. Kebetulan kami satu kompleks, satu sekolah, dan satu kelas. Aku rasa ini bukan kebetulan biasa. Namun tahu apalah aku saat itu.
Setiap hari aku berangkat ke sekolah bersama dengan mereka. Sekalian jalan, begitu kata Mama Dini. Aku sih oke saja. Sepulang sekolah kami mengerjakan tugas bersama. Ketika bermain pun aku tidak merasa risih dengan alat masak- masakan milik kedua anak perempuan itu. Aku cepat beradaptasi. Dan seperti anak- anak lainnya pada waktu itu, setelah selesai mengerjakan tugas kami akan bermain bersama. Kadang-kadang di rumahku, kadang- kadang di rumah Dini ataupun di rumah Livia. Bergantian lah. Ini tidak sulit mengingat rumah kami (yang kebetulan lagi) berdempetan. Masuk dari gerbang utama, rumah Livia duluan sampai kemudian tepat di sebelahnya adalah rumahku dan di sebelah rumahku lah rumah Dini berada.
Tidak selamanya kami bermain masak- masakan. Terkadang kami menaiki sepeda mengelilingi kompleks. Ketika sedang tidak sibuk, Mama Dini membawa kami jalan- jalan ke mall. Masa kecilku kulewati dengan bahagia dan tiada kurang suatu apapun. Kami tumbuh seperti anak- anak lainnya.
Hari berganti hari. Tahun berganti tahun. Tanpa terasa dua belas tahun sudah persahabatan kami terjalin. Berbagai suka duka telah kami lewati bersama. Aku tumbuh menjadi pemuda yang tampan dengan  rambut agak kecoklatan seperti papaku dan tinggi badan yang ideal yang selalu dilirik tiap gadis ketika aku lewat (tidak bermaksud menyombong lho)dan cerdas.
Livia dan Dini juga sama. Mereka berdua menjadi gadis yang cantik. Livia memiliki rambut yang panjang dengan kedua bola mata kecoklatan yang indah dan lesung pipi di kedua belah pipinya. Sedangkan Dini berambut pendek sebahu dengan model bob. Ia memiliki mata bulat yang berwarna hitam. Keduaya tidak tinggi, tidak pendek juga. Sedang- sedang lah. Mereka memiliki pesona khas di dalam dua tubuh yang berbeda.
Manisnya persahabatan kami seperti gula juga membuat iri mata yang memandang. Banyak yang memanggil kami trio jenius karena prestasi kami bertiga yang wah di antara murid- murid yang lain. Nilai kami selalu berada di puncak. Berbagai perlombaan yang kami ikuti selalu memberikan hasil yang memuaskan. Indahnya hidup ini.
RRR
Aku merasa ada perasaan aneh yang muncul ketika aku berdekatan dengan sahabatku, Livia. Aku dag dig dug kala ia berdiri di sampingku (entah ia mendengarnya atau tidak) dan terkadang bisa salah tingkah. Namun aku ingin selalu dekat dengannya, padahal kami kan sahabat. Tidak cukup dekatkah hubungan kami? Aku ingin yang berbeda.  Astaga, apakah aku jatuh cinta kepada Livia? Kurasa iya. Rasanya aku ingin segera mengatakannya kepada Livia bahwa aku ingin hubungan kami lebih dari sahabat. Namun aku belum memiliki keberanian itu. Aku ingin tahu apakah Livia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku atau tidak.
Mau menceritakan kepada Dini, aku malu. Meskipun kami adalah sahabat (yang kata orang kita bisa saling curhat) tapi aku merasa canggung untuk membicarakan masalah percintaan dengan mereka berdua. Selama ini kami pun tidak pernah menyinggung masalah percintaan. Ada baiknya juga memiliki sebuah rahasia,pikirku.
RRR
Sejak aku mengetahui bahwa aku telah jatuh cinta kepada Livia, aku selalu memberi perhatian lebih padanya ketika kami berdua yaitu saat ketika kami sedang berada di kelas. Ya, Dini tidak lagi sekelas denganku dan Livia. Ia memilih jurusan IPA sedangkan kami memilih jurusan IPS. Padahal nilai kami bagus dan lebih dari cukup untuk mengambil jurusan ilmu alam tetapi kami menolak saran dari para guru. Jadilah kami sekelas disini. Livia duduk di sampingku.
“Van, nanti siang kita ke toko buku ya,” ajak Livia suatu hari saat istirahat.
“Oke. Nggak mau langsung dari sekolah aja? Kita kan bisa makan siang sekalian di mall,” usulku
“Boleh juga. Kalau gitu, sekarang kita ke kelas Dini yuk, kasih tahu dia dulu,” ajaknya sambil bangkit dari bangku kami.
Aku meraih tangan Livia, “kalau Dini tidak diajak bagaimana?”
“Kenapa Van? Dini kan selalu ikut kita. Kamu nggak lagi berantem kan sama dia?”
Aku menggeleng.
“Ya sudah kalau begitu. Yuk,” ajaknya sekali lagi.
“Kamu duluan ya, Liv. Aku mau ke toilet dulu. Nanti aku nyusul,”
“Oke” jawab Livia singkat lalu meninggalkanku.
Aku merasa senang ketika Livia mengajakku ke toko buku untuk mencari buku yang kami perlukan untuk kelas Geografi minggu depan. Namun aku merasa sedikit keberatan ketika ia bilang ia juga mengajak Dini. Sebenarnya tidak salah karena kemanapun kami pergi, kami selalu bertiga. Astaga, karena cinta aku sudah menjadi egois. Cepat- cepat kuenyahkan pikiranku yang kacau itu dan berjalan menuju toilet.
RRR
Aku bersahabat dengan Evan dan Dini sudah lama. Lebih dari separuh hidupku. Hingga kini kami duduk di kelas tiga SMA. Namun seiring dengan kedekatan kami dan berjalannya waktu, aku menganggap Evan lebih dari sahabatku. Aku menyadari aku jatuh cinta kepada Evan ketika kami duduk di kelas satu. Sejak itu aku diam- diam memperhatikannya. Sekarang dengan dia duduk di sampingku, aku merasa senang.
Aku merasa kedekatanku dengan Evan selama ini lah yang membuat aku bisa jatuh cinta kepadanya. Kata orang kedekatan bisa menumbuhkan cinta. Dan itu benar. Jujur aku ingin Evan merasakan hal yang sama. Namun aku tidak berani berharap banyak. Bisa menjadi sahabat Evan aku sudah sangat senang. Biar rasa ini kupendam sendiri. Aku takut jika Evan tidak memiliki perasaan yang sama, persahabatan kami akan rusak. Jadi biarlah semuanya berjalan seperti biasa.
RRR
Aku naksir Evan. Aku jatuh cinta padanya. Dia cowok yang sempurna bagiku. Dia memiliki segalanya. Namun yang membuat aku menyukainya bukan semua kelebihan fisiknya. Aku mencintai dia apa adanya. Apakah Evan mencintaiku juga? Selama ini kami bertiga tidak pernah membahas masalah hati kami. Tapi aku yakin jika aku lebih bersabar dan lebih memperhatikan Evan, Evan akan membalas cintaku.
Kebetulan hari ini Livia datang ke kelasku. Aku menceritakan kepadanya mengenai perasaanku terhadap Evan.
“Kamu yakin Din dengan perasaan kamu?”
“Seratus persen aku yakin Liv. Cuma si Evan entah suka gak ya sama aku. Dia nggak pernah curhat tentang cinta nih sama kita,”
“Mungkin dia malu. Ngomong- ngomong Din, nanti siang ke mall yuk. Aku dan Evan mau nyari buku,”
“Mungkin juga. Ayo, sekalian juga pedekate sama si Evan. Hi hi,” aku bersemangat ketika menerima ajakan Livia.
Sebenarnya aku tidak perlu segembira itu karena aku bisa bertemu dengan Evan kapan pun aku mau. Tapi yang namanya jatuh cinta, mendengar namanya saja toh sudah bisa membuatku senang seperti orang menang lotere.
“Ya sudah Din. Bentar lagi bel. Aku balik dulu ya. Dah, ” ucap Livia berpamitan padaku.
“Dah,” balasku sambil melambaikan tanganku.


Bersambung ke Diari Tiga Sahabat II

Kepergianmu





Rama bergerak perlahan mendekati kekasihnya, Judith, dan berkata, “jangan menangis kasih. Tahukah kamu betapa aku sangat ingin kembali ke sisimu.”

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Judith. Yang terdengar hanya isakan tangisnya dan tangisan langit yang sudah mulai membasahi  bumi.

“Kumohon sayang, jangan seperti ini. Pulanglah ke rumah. Hujan akan membuatmu jatuh sakit, ” pinta Rama.
Usaha Rama sia- sia. Judith masih tidak menghiraukan Rama. Pikirannya melayang- layang sendiri. Masih menangis. Ia bangkit berdiri setelah ibunya memayunginya dan membujuknya pulang. Lalu keduanya berjalan meninggalkan pusara yang berukirkan nama RAMA WIDIANTO. 

My (first) Post

Halo semua..
Blog ini merupakan blog kedua saya setelah blog buku saya sebelumnya. Berbeda dengan blog buku saya, blog ini akan saya isi dengan cerita- cerita ataupun puisi yang saya tulis. Cerita- cerita ini 95% fiksi (ada beberapa yang terinspirasi dari kejadian sehari- hari). Rata- rata bergenre romance.

Awalnya isi blog saya digabung. Tetapi karena ingin fokus di satu- satu bidang, maka saya memisah blog saya menjadi dua. Well, karena blog ini masih baru, tidak banyak yang bisa saya kenalkan. Selanjutnya, saya harap para pengunjung blog saya dapat menikmati isi blog saya.

Salam blogger :)