Wednesday, August 22, 2012

Another Prince


“Gin, mau sampe kapan kamu seperti ini?” tanya Dewi, sahabat Gina.
“Maksud kamu?” Gina balik bertanya.
“Sampai kapan kamu bakal menjomblo terus? Sampai tua?” tanya Dewi lagi.
“Ya, aku lagi tidak ingin pacaran saja. Masih sakit…”
Kejadian pahit itu masih terbayang- bayang di benaknya. Kejadian yang membuat Gina trauma sekaligus menyesal hingga kini.
“Ya, tapi kamu kan tidak bersalah dalam kejadian itu. It’s just an accident…” Dewi mencoba menenangkan Gina. Gina hanya terdiam dan menarik napas dalam.
ŸŸŸ
Dua tahun yang lalu, tepatnya ketika Gina sedang duduk di kelas satu SMA, Andrew menyatakan cinta padanya. Andrew adalah salah satu ‘prince’ di sekolahnya. Teman- teman memanggilnya begitu karena bagi mereka, Andrew adalah sosok yang mendekati sempurna. Wajah yang tampan dan prestasi yang luar biasa bagus tidak membuat cowok yang satu ini sombong. Ia sangat rendah hati. Terhadap siapapun baik.  Ditambah lagi ia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang direktur utama salah satu bank ternama di Indonesia. Sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang sangat telaten dalam mengurus rumah tangganya. Orang tua mereka telah saling mengenal. Bahkan mereka telah merestui hubungan anak- anak mereka. Padahal Gina masih merasa terlalu cepat untuk membicarakan hal ini. Singkatnya, Gina dan Andrew adalah pasangan yang serasi. Pasangan yang terlalu sayang untuk dipisahkan.
                                                                ŸŸŸ
Seperti biasa, setiap hari Sabtu sekolah Gina libur. Begitu pula dengan sekolah Andrew. Kebetulan mereka beda sekolah. Sorenya Gina meng-sms Andrew untuk mengajaknya keluar.
Drew, kluar yuk!
Andrew mengiyakan ajakan Gina dengan membalas sms-nya.
Ok! aku jmpt skr yah…
Andrew memilih naik mobil. Itu membuatnya merasa lebih nyaman ketimbang naik motor. Kebetulan ia juga sedang kurang enak badan. Di tengah perjalanan, kepala Andrew pusing berat dan…
BRAAKKK…
Mobil Andrew menabrak pohon. Warga setempat segera membawa Andrew ke rumah sakit. Namun sayang. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Nyawa Andrew tidak tertolong.
Hal ini tentu merupakan pukulan berat bagi Gina dan keluarga Andrew. Gina merasa ia penyebab kecelakaan ini. Namun orang tua Andrew telah berlapang dada. Mereka tidak menyalahkan Gina atas kecelakaan anaknya. Mereka telah menganggap Gina sebagai anak mereka sendiri.
ŸŸŸ
Sepulang sekolah, Gina berdua dengan Dewi pergi ke mall dulu. Rencananya sih mereka mau jalan- jalan, tapi akhirnya malah Gina yang jalan sendirian. Tiba- tiba pacar Dewi meneleponnya. Katanya ada yang penting. Dewi mengajak Gina pulang. Namun ia tidak mau. Gina masih mau berjalan- jalan meskipun sendirian. Kini, sepeninggal Andrew, jika berjalan sendirian, Gina sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Padahal dulu ia paling tidak suka kalau tidak ditemani bila sedang keluar rumah atau jalan- jalan. Kini Gina semakin linglung. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Setelah berkeliling- keliling, mata Gina tertuju pada sebuah sport house. Dilihatnya toko itu beberapa saat, tetapi ia tidak masuk ke dalamnya. Ia hanya melihat- lihat sepatu olahraga yang dipajang di etalase toko.
“Gin, kita masuk sebentar ya. Aku mau beli sepatu nih,” ajak Andrew
“Gak mau ah. Ntar kalau kamu sudah asyik milih sepatu, jadi lupa waktu. Terus aku gak kamu peduliin lagi,” tolak Gina, lalu pura- pura cemberut.
“Jangan gitu dong, say… Ntar dari sini terserah kamu deh mau ke mana. Mau ke butik langganan kamu atau mau nonton juga boleh. Lagian aku nggak lama kok,” bujuk Andrew. Akhirnya Gina mengiyakan. Sebenarnya tanpa dibujuk dengan embel- embel nonton Gina juga tidak akan tega untuk menolak ajakan cowoknya. Gina tahu betul setiap kali ke mall, Andrew selalu mampir ke toko ini. Andrew sangat suka mengkoleksi sepatu olahraga. Selain bisa digunakan untuk olahraga, juga bisa digunakan untuk jalan- jalan. Andrew juga selalu meminta pendapat ceweknya ini mengenai sepatu yang akan ia beli.
“Maaf, mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Lamunan Gina buyar seketika. Ia terkejut. Seorang karyawati dari toko menanyai Gina. Mungkin karena Gina asyik memandang sepatu sedari tadi.
“Emm, gak kok mbak. Cuma lihat- lihat…”
Nggak masuk mbak? Lagi ada diskon khusus lho buat yang ultahnya bulan ini,”
Nggak deh mbak. Makasih…”
Gina pun berlalu dari toko itu.
“Ulang tahun? Ini kan… Ini bulan Oktober. Hari ini tanggal 6. Seminggu lagi ultahnya Andrew. Balik ke toko tadi ah. Kalo aku beliin sepatu buat Andrew, pasti dia senang banget,” guman Gina.
Bila kita harus berpisah… sudah…
Biarkan ini semua berakhir sudah…
Cinta memang tak harus
miliki ia…
Terdengar refrain lagunya Nidji. Ponsel Gina berbunyi. Ada telepon dari Dewi rupanya.
“Hallo?”
“Gin, kamu masih di mall?”
“Iya. Sekarang aku lagi mau beli kado nih…”
“Kado? Emang siapa yang ultah?”
“Masa kamu lupa sih? Bentar lagi kan ultahnya Andrew?”
“Ya ampun Gin, Andrew itu udah ga ada. Kamu jangan berlebihan. Sekarang kamu tunggu aku di lobby mall. Aku jemput kamu sekarang…”
Klik. Telepon ditutup. Aduh, kok aku jadi begini ya? Padahal kan aku sudah janji untuk tidak sedih terus. Nyatanya aku masih tak kuat, batin Gina kesal.
Tanpa pikir panjang, Gina langsung menuju ke lobby mall seperti yang dikatakan Dewi. Tak lama menunggu, Dewi tiba dengan Jazz biru metaliknya.
ŸŸŸ
Dua tahun berlalu. Namun Gina masih belum bisa melupakan Andrew. Gina sedang  membaca ketika ia mendengar suara Andrew memanggilnya. Mungkin hanya perasaanku saja, batinnya. Akan tetapi suara itu terus terngiang di telinga Gina.
“A- An- Andrew?” Gina bertanya dengan gugup.
“Ya, ini aku. Kamu jangan terkejut ya. Aku datang untuk terakhir kalinya,” ucap Andrew.
“Jadi benar kamu adalah Andrew? Aku kangen banget sama kamu, Drew! Kamu tega banget ya ninggalin aku? Sekarang kamu dimana? Kok tida kelihatan?” Gina mencari- cari Andrew tetapi tak dapat melihat dan menemukannya. Lalu ia menangis.
“Kamu tidak akan bisa melihat aku lagi, Gin. Aku sudah tidak ada di dunia ini,” jawab Andrew sambil berusaha menahan air mata yang ingin melompat keluar dari pelupuk matanya, “ kamu harus berusaha untuk melupakanku, kita sudah tidak bisa bersatu lagi. Dunia kita beda,” terang Andrew.
“Ta- - tapi aku masih sayang kamu. Aku belum siap kehilangan kamu,”
“Gin, kamu harus ingat satu hal, bahwa cinta tak selamanya bisa saling memiliki. Kalau kamu benar- benar sayang sama aku, pertahankanlah rasa sayang kamu. Sayang kamu ke aku bukan berarti kamu harus hidup tertutup. Terbukalah sedikit. Mungkin kamu bukan milikku, tapi aku yakin kamu bakal dapat pasangan yang tulus mencintai kamu seperti aku mencintai kamu. I love you. It’s time to go… Bye.. Take care…
Setelahnya, Andrew pun pergi. Pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Pergi untuk selamanya.
“ANDREW!!! ANDREW!!! Jangan tinggalin aku!!!” Gina hanya bisa menangis dalam kesedihannya. Sesungguhnya, ia masih sayang sama Andrew. Ia belum sanggup untuk melepas kepergian Andrew.
ŸŸŸ
Keesokan harinya, Gina menceritakan apa yang ia alami kepada sahabatnya. Namun Dewi tidak percaya. Ia menganggap bahwa Gina hanya berhalusinasi. Gina tidak peduli. Ia merasa bahwa kemarin malam itu benar- benar Andrew. Setelah merenungkan kata- kata Andrew kembali, Gina bertekad untuk menuruti nasihat Andrew.
“Andrew benar. Aku tidak boleh terus- menerus larut dalam kesedihan. Hidupku masih panjang. Thanks Drew… Aku tidak akan melupakanmu. Selamanya…” tekad Gina.
ŸŸŸ
Semua tempat bimbingan belajar dipadati oleh siswa/i kelas dua belas yang akan mengikuti Ujian Nasional lima bulan mendatang. Bagi mereka yang ingin memperoleh nilai bagus, ikut bimbingan bisa menjadi salah satu alternatifnya. Sebenarnya tidak ada jaminan pasti bahwa nilai yang diperoleh bisa sempurna, semua kembali kepada si murid, apakah ia tekun atau tidak.
Salah satu murid yang mendaftar ke lembaga bimbingan belajar ialah Dewi. Dewi adalah sosok murid teladan. Ia tidak hanya pintar tapi juga rajin. Nilainya selalu di atas rata- rata. Jika ditanya siapa juara kelas, semua mata pasti mengarah padanya. Jadi bisa dipastikan Dewi akan fokus penuh dalam mempersiapkan ujian akhir ini. Untuk itulah ia mendaftarkan diri mengikuti bimbingan intensif selama lima bulan ini. Semua demi nilai.
Berbeda dengan Gina yang santai saja dalam belajar. Prestasinya tidak terlalu menonjol. Ketika ditawari oleh Dewi untuk ikut bimbingan saja Gina sudah menolak.
“Nggak mau Wi. Bimbingan dari sekolah saja sudah bikin pusing. Apalagi dari luar. Bisa meledak nih aku,” begitulah jawaban Gina saat ditanyai Dewi.
“Ya sudah kalau nggak mau. Ngomong- ngomong, kamu udah tau belum kalau kelas kita bakalan kedatangan murid baru?”
“Aku belum dengar tuh. Kok tanggung banget? Sudah kelas tiga baru pindah sekolah. Anak mana, Wi? ” ucap Gina lalu menyesap teh manis dingin pesanannya.
“Aku nggak gitu jelas juga. Hanya dengar sekilas saja,”
Dan bel masuk pun berbunyi. Seluruh murid yang sedang berada di luar ruangan kelas segera masuk kelas. Namun ada juga sebagian yang masih enggan masuk. Mereka yang belum masuk itu duduk di meja yang ada di depan kelas. Setelah melihat guru datang dari kejauhan, barulah mereka cepat- cepat masuk kelas.
Tap tap tap...
Suara sepatu hak tinggi itu mulai terdengar. Wanita berusia tiga puluhan itu memasuki kelas. Kali ini tidak sendiri. Ia ditemani oleh seorang laki-laki remaja yang sebaya dengan murid- murid di kelas itu.
“Selamat pagi semuanya,” sapa Bu Astri, seperti itu biasa ia dipanggil.
“Selamat pagi, Bu” terdengar balasan dengan suara semangat. Tentu saja pagi ini mereka semua bersemangat. Apalagi murid wanita. Atmosfer baru yang menyegarkan, pikir mereka.
“Baiklah anak- anak. Pagi ini kita kedatangan murid baru. Mungkin sebelumnya ada yang sudah tahu mengenai kabar ini. Dan inilah dia. Ayo, nak, perkenalkan diri kamu ke teman- teman,” ujar Bu Astri sambil meraih bahu murid baru itu.
“Hai. Kenalin, nama saya Jeff Aryanto. Panggil saja saya Jeff. Saya pindahan dari Bali,” ujar Jeff memperkenalkan diri dengan sopan.
“Nah, sekarang Jeff resmi menjadi bagian dari kelas kita. Walaupun waktu yang tersisa tidak banyak, Ibu harap kalian bisa menjalin hubungan yang baik dengan Jeff. Ditambah lagi ujian akhir sudah dekat dan Jeff perlu beradaptasi dengan lingkungan barunya, Ibu harap kalian membantunya. Baiklah Jeff, kamu boleh duduk di samping Gina,” jelas Bu Astri kemudian mempersilahkan Jeff duduk dengan menunjuk ke arah tempat duduk Gina yang terletak di deretan belakang.
Dengan patuh Jeff pun berjalan menuju ke tempat yang telah ditunjuk oleh wali kelas barunya itu. Sesampainya di tempat duduk barunya, Jeff hanya menyunggingkan seulas senyum kepada Gina. Setelahnya, ia mengeluarkan buku pelajarannya dan fokus mendengarkan pelajaran Bu Astri.
Gina, yang paling anti dengan pelajaran Sejarah, hanya bisa terheran- heran mengamati Jeff sepanjang pelajaran berlangsung. Baginya, ada atau tidaknya kehadiran Jeff sama saja. Sama rasanya seperti duduk sendiri. Seharusnya sebagai murid baru, Jeff lebih ramah kepada Gina. Ini malah diam saja.
Akhirnya satu mata pelajaran lewat juga. Bu Astri merapikan bukunya kemudian keluar dari kelas. Melihat Jeff yang ‘dingin’, Gina memulai percakapan. Mungkin anak ini masih malu, pikir Gina.
“Hai Jeff. Kenalin aku Gina,” sapa Gina ramah sambil mengulurkan tangannya.
“Hai juga. Salam kenal,” balas Jeff singkat sambil menjabat tangan Gina. Datar.
Setelahnya Jeff terdiam kembali. Kali ini ia mengeluarkan buku yang tidak terlalu besar namun lebih besar dari buku pelajaran Sejarahnya tadi. Ia mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas putih itu. Jemarinya dengan lincah menari- nari di atas kertas. Gina pun tidak berani bertanya terlalu banyak lagi.
ŸŸŸ
“Gila Wi, tuh anak bener- bener deh. Masak kusapa dia enggak ada reaksinya?” cerita Gina pada Dewi saat mereka sedang menikmati jajanan mereka di kantin.
“Mungkin dia segan kali sama kamu?”
“Enggak kali Wi. Aku nggak jutekin dia. Malah aku nanya baik- baik. Dasar cowok aneh. Misterius,”
“Sabar deh Gin. Ntar kalo udah waktunya pasti dia bakalan ngomong juga kok. Dia kan butuh adaptasi juga,” hibur Dewi.
Setelahnya mereka kembali menikmati makanan mereka. Tiba- tiba pandangan Gina tertuju pada sosok yang tidak begitu asing yang sedang duduk di pojok kantin. Ada tiga orang. Salah satunya Jeff. Dua yang wanita lain Gina mengenali mereka sebagai adik sepupu Andrew. Gina sendiri tidak terlalu dekat dengan kedua sepupunya itu. Andrew juga begitu.
“Wi, coba kamu lihat. Itu kan Jeff. Sama Tifanny dan Natalia. Dia kenal mereka berdua? Cepat banget yah,”
“Iya. Mungkin sebelumnya sudah kenal atau mereka ada hubungan gitu,” balas Dewi.
“Nggak tahu juga sih. Udah deh, bukan urusan kita. Masuk kelas yuk. Bentar lagi bel nih,” ajak Gina.
ŸŸŸ
Sudah hampir dua minggu Jeff duduk sebangku dengan Gina. Namun Gina merasa hampir tidak ada perubahan yang terjadi pada Jeff. Jeff masih saja dingin terhadap Gina. Gina jadi bingung mengapa cowok yang duduk di sebalahnya ini harus bersikap begitu kepadanya. Sudah tidak tahan lagi, Gina memberanikan diri bertanya kepada Jeff.
“Jeff, sebenarnya aku punya salah apa sih sama kamu? Kelihatannya sejak kamu masuk, kamu dingin begitu sama aku?”
“Nggak. Kamu nggak salah apa- apa. Aku orangnya memang begini,” dustanya.
“Kamu bohong. Sama Dewi dan temen- temen yang lain kamu nggak gitu. Cuma sama aku saja. Kamu kira aku bodoh?” ada sedikit emosi dalam suara Gina setelah mendengar jawaban Jeff.
Jeff tidak lagi menjawab pertanyaan Gina. Ia malah melangkah keluar kelas.
“Jeff!” teriak Gina kesal. Emosinya memuncak. Mau cerita kepada Dewi, anak itu tidak datang. Dewi izin tiga hari karena ia menghadiri pernikahan sepupunya di Kuala Lumpur.
Merasa bosan, Gina pun keluar dari kelas. Ia berjalan- jalan tanpa arah dan tujuan. Ia hanya mengikuti langkah kakinya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang murid tengah duduk di bangku sambil meniup- niup tangannya yang berdarah.
“Jeff! Tangan kamu kenapa? Kok berdarah begini?” tanya Gina panik.
“Bukan urusan kamu. Aku bisa sendiri kok,” ucap Jeff sambil bangkit berdiri hendak pergi.
“Aku nggak peduli seberapa tidak suka kamu sama aku. Tapi kamu nggak boleh gitu dong. Tangan kamu bisa infeksi kalau dibiarkan begini terus,”
Jeff terhenti. Ia tidak jadi melangkah pergi.
“Ayo, aku bawa kamu ke UKS. Kamu pasti belum tahu kan dimana,” ajak Gina.
Jeff menurut saja ketika diajak oleh Gina. Ia tidak protes. Di tengah perjalanan, Gina membuka pembicaraan, “aku nggak tahu Jeff apa yang membuat kamu tidak suka sama aku. Perasaan dari waktu aku kenal kamu, kamu sudah begitu. Kalau kamu memang merasa aku bermasalah atau apa, kamu bisa cerita sama aku. Ya, aku sih berharap kita bisa jadi teman yang baik,”
UKS sedang kosong waktu itu. Padahal biasa ada yang menjaga. Otomatis, Gina yang mengobati Jeff. Diambilnya kapas dengan alkohol lalu diusapkannya ke tangan Jeff yang tergores cukup panjang itu. Sebenarnya Gina penasaran mengapa Jeff bisa terluka seperti itu. Namun Gina urung menanyakannya. Ia tahu Jeff tidak akan menjawabnya. Setelah selesai membalut luka Jeff, Gina menyimpan kembali obat- obat itu ke dalam kotaknya.
“Kalau kamu takut infeksi atau apa, aku sarankan habis sekolah kamu ke dokter,” saran Gina lalu membalikkan punggung dan berjalan pergi meninggalkan Jeff.
Baru saja Gina sampai di ambang pintu UKS, Jeff menyerukan namanya, “Gina!”
“Thanks..” ucapnya pelan.
Seulas senyum tersungging dari bibir Gina tanda responnya terhadap ucapan terima kasih Jeff. Setelahnya ia berjalan kembali ke kelas dan meninggalkan Jeff.
Lima menit kemudian Jeff tiba di kelas. Suasana kembali hening. Tidak ada tanda percakapan antara mereka berdua akan dimulai. Hingga lonceng pulang sekolah berbunyi.
Gina keluar dari kelas terlebih dahulu. Hari ini dia tidak diantar pulang oleh Pak Man, supirnya. Gina pulang sendiri. Maka, kini Gina sudah berada di perempatan jalan menunggu angkot yang lewat. Tiba- tiba sebuah mobil sedan melaju kencang sekali sehingga becek jalanan terciprat ke seragam sekolah Gina. Yah, nasib. Jadi kotor deh. Ketika Gina sibuk mencari tisu di tasnya, sebuah sapu tangan terulur kepadanya. Jeff!
“Nih, bersihin dulu pakai sapu tanganku,” tawar Jeff.
“Ohh.. Makasih,” Gina menerima sapu tangan itu lalu mengelap rok dan sebagian kakinya yang terkena becek.
Belum sempat berkata lagi, Jeff sudah keburu melesat pergi dengan Ninjanya. Gina hanya bisa terheran- heran.
Aneh, apa dia sudah berubah? Apa karena tadi aku menolong dia? Ternyata dia bisa baik juga ya. Tapi aku merasa dia tidak asing bagiku. Itu sebabnya aku selalu penasaran terhadapnya dan selalu ingin tahu pribadi dibalik sikap dinginnya. Sepertinya aku sudah kenal dia sebelumnya. Padahal aku baru kenal dia dua minggu ini. Rasanya dekat banget.
Ketika dia menolongku, aku merasakan ada ketulusan darinya. Kalau saja dia mengacuhkanku. Kalau saja dia tetap mempedulikanku. Kalau saja...
Aku merasa dia seperti Andrew. Ada kebaikan dalam dirinya. Tapi mengapa dia begini? Astaga, apa aku sudah jatuh hati padanya? Secepat itukah Jeff membuatku dapat jatuh cinta lagi?
~Irgina Winner~
ŸŸŸ
Sapu tangan pinjaman Jeff sudah Gina cuci dan jemur. Rencananya ia akan mengembalikan kepada pemiliknya besok.
Esoknya Gina tidak lupa membawa sapu tangan Jeff. Setelah sarapan ia pun berangkat ke sekolah. Ketika ia tiba di kelas, Jeff sedang duduk sambil membaca buku pelajarannya.
“Ini Jeff sapu tangan kamu yang kemarin. Sudah aku cuci kok,” ujar Gina sambil mengembalikan sapu tangan Jeff, “makasih ya,”
“Sama- sama,” balas Jeff singkat.
“Tangan kamu, sudah agak baikan?” tanya Gina.
“Sudah,” jawabnya singkat. Diam kembali.
“Ngomong- ngomong, kamu kok mau nolong aku kemarin?” tanya Jeff setelah keduanya terdiam beberapa saat.
“Ya karena waktu itu kamu lagi butuh pertolongan. Nggak mungkin kan pas aku lewat terus aku biarin kamu gitu. Lagian aku pikir kamu juga masih baru jadi nggak tahu UKS dimana,”
“Oh. Meskipun aku cuek dan jutek sama kamu?”
“Aku nganggap kamu teman aku meskipun kamu rada nyebelin sih sebenarnya,” ucap Gina malu- malu.
Well, kurasa aku juga nggak bisa cuekin kamu terus. Kelihatannya kamu baik. Tidak salah kalau Andrew memilih kamu,” ucap Jeff tulus.
“Andrew? Kamu kenal dia?”
Dan cerita sebenarnya bergulir dari mulut Jeff. Sebuah rahasia yang cukup mengejutkan Gina. Jeff ternyata adalah sepupu dekat Andrew. Ia dan Andrew sudah seperti saudara kandung sendiri. Keduanya anak tunggal. Jadi karena orang tua masing- masing sibuk, Andrew menjadi akrab dengan Jeff. Baik ketika sedang senang ataupun sedang ada masalah menimpa, Andrew selalu menceritakannya kepada Jeff. Begitu pula Jeff. Jadi Jeff tahu hubungan antara Andrew dengan Gina.
Ketika berita mengenai kecelakaan Andrew diketahui Jeff, Jeff tak kalah shock dengan Gina. Ia merasa ia telah kehilangan saudaranya. Sejak saat itu Jeff sedikit merasa kematian Andrew disebabkan oleh Gina. Jeff yang kala itu belum mengenal Gina langsung, menjadi penasaran dengan gadis yang dapat membuat Andrew mengabaikan kesehatannya sendiri karena sebelum kecelakaan itu terjadi, paginya Jeff sempat berteleponan dengan Andrew dan dari sana ia mengetahui bahwa Andrew sedang tidak fit. Kepalanya sakit dan sering berdenyut.
Sebutir kristal bening tumpah dari bola mata yang indah itu, “maaf Jeff, aku nggak bermaksud untuk membuat Andrew jadi begini,” suara Gina sedikit bergetar ketika berkata- kata.
“Kamu nggak perlu minta maaf. Seharusnya aku lah yang meminta maaf. Sekarang pikiranku sudah terbuka. Sekarang aku tahu kamu cewek yang baik. Maaf kalau selama ini aku sudah berprasangka buruk sama kamu,” ucap Jeff tulus dengan nada sedikit menyesal sambil menyeka air mata Gina.
“Nggak apa- apa Jeff. Sekarang Andrew sudah tenang disana. Kita juga sebaiknya mengikhlaskan kepergiannya. Aku juga baru tahu kalau kamu sangat dekat dengan Andrew. Ia sendiri pernah cerita kalau ia punya sepupu dekat yang biasa ia panggil Arya. Aku nggak nyangka kalau itu kamu,”
“Iya. Andrew tidak suka memanggilku Jeff. Ia lebih senang memanggilku Arya. Jadi mulai sekarang aku nggak akan bikin kamu kesal lagi,”
Gina tersenyum. Ia sangat senang melihat perubahan Jeff. Ternyata rasa sayang Jeff kepada Andrew sama besarnya dengan rasa sayangnya kepada Andrew. Dan kini semua masalah sudah jelas dan terselesaikan.
ŸŸŸ
Ternyata kamu berbeda.
Tidak seperti prasangkaku.
Maafkan aku yang terlalu egois.
Kutahu dukamu sama seperti dukaku.

Gadis itu tidak seperti yang kubayangkan. Ia tidak seperti kebanyakan gadis lain yang manja. Ia dewasa. Ia juga baik. Meskipun aku begitu terhadapnya. Aku akan berusaha menjaganya untukmu, Andrew.
~Jeff Aryanto~
ŸŸŸ
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Ujian Nasional yang ditakuti para murid pun sudah dilewati dengan baik. Hubungan Gina dan Jeff kian membaik. Keduanya menjadi akrab. Sampai ketika suatu hari Jeff memberitahu Gina bahwa ia akan melanjutkan studi ke negeri kangguru atas beasiswa yang diterimanya. Sejujurnya Gina berat. Ia yakin pada perasaannya kini. Ia sudah jatuh cinta pada Jeff. Namun ia tidak berani mengungkapkannya. Takut Jeff hanya mengganggapnya sebagai sahabatnya.
ŸŸŸ
Mengapa rasa sakit itu kembali menghunjam?
Tidak tahukah kau aku begitu mencinta..
Kuingin bersamamu..
Tidak tahukah kau aku begitu mendamba..

Aku tidak melupakan Andrew. Andrew akan selalu berada di dalam hatiku. Namun apa daya ketika cinta itu telah datang menghampiri. Cinta yang lain. Cinta yang tumbuh dalam kebersamaan. Namun aku terjatuh lagi. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Sakit dan perih.
~Irgina Winner~
ŸŸŸ
Saat yang paling tidak ingin dihadapi keduanya akhirnya tiba juga. Hari ini Jeff akan meninggalkan Indonesia. Meninggalkan Gina dan kenangan indah yang dilewatinya bersama Gina. Hatinya berat juga. Namun ia juga tidak bisa mengecewakan kedua orang tuanya. Jeff merupakan anak kebanggaan dan tentu saja realita harus tetap dihadapi.
Aku akan kembali, begitu kata terakhir Jeff kepada Gina sebelum ia pergi.
Aku akan menunggumu, kata ini akhirnya dapat diucapkan oleh Gina. Ia berharap Jeff mendengarnya.
ŸŸŸ

Aku sedih.
Meninggalkanmu disini.
Aku senang.
Hatimu akan tetap untukku.
Tunggu aku.
Aku akan kembali.
~Jeff Aryanto~
ŸŸŸ
Lima tahun kemudian…
Gina berusaha untuk membuang pikiran tentang Jeff dari benaknya. Namun hal itu tampaknya sia- sia. Bayangan Jeff masih selalu hadir. Tidak pernah absen.
“Hai,”
Gina mengucek- ngucek matanya. Berharap itu bukan sekadar ilusinya. Namun bayangan itu masih belum juga hilang.
“Lupa sama aku ya?” tanyanya sambil tersenyum.
“Jeff? Benaran kamu?” Gina bertanya kembali. Hampir tidak percaya.
“Ya iyalah. Aku kembali. Maaf kalau aku tidak kontak kamu selama ini,”
“Kukira kamu sudah melupakanku Jeff. Sudah balik berapa hari?”
“Baru saja. Koperku masih di mobil. Mana mungkin aku melupakanmu. Kamu ingat lima tahun yang lalu ketika aku bilang aku pasti kembali dan kamu bilang kamu menungguku. Apakah kamu masih menungguku?” ucapnya sambil meraih kedua tangan Gina. Sorot mata Jeff serius.
Gina menggangguk.
“Aku kembali untukmu. Maukah kamu menjadi pengisi hatiku?” Jeff melepaskan tangannya kemudian membentangkannya lagi untuk menanti jawaban Gina.
Gina menggangguk lagi. Bahagia. Berlari kedalam pelukan hangat Jeff.
TAMAT
mumljj