Saturday, October 11, 2014

Hujan di Sepanjang Penantian Cinta

“Sampai kapan kalian akan hidup seperti ini, Bram?”
Bram menggelengkan kepalanya, lalu menjawab lirih, “aku tidak tahu, Ma. Aku akan menunggu.”
Bram lalu membalikkan tubuhnya, kembali memerhatikan istrinya, Raina. Wanita itu  tengah duduk di perbatasan teras, larut bersama rintik hujan yang turun. Raina selalu seperti itu saat hujan turun.
Bram tahu alasannya. Raina menunggu Awan, mantan kekasih sekaligus sahabat Bram, yang telah pergi mendahului mereka. Awan meninggal dalam kecelakaan saat hendak datang ke rumah Raina. Kala itu hujan turun sangat lebat sehingga jarak pandang berkurang. Sejak itu hidup Raina tidak pernah lagi sama.
Yang membuat Bram bertahan adalah cintanya pada Raina sekaligus pesan terakhir sahabatnya. Sebelum kecelakaan itu terjadi, Awan berpesan pada Bram. “Titip Raina, ya.”
Setelahnya, Awan hanya tersenyum dan tidak berkata apa- apa lagi. Bram sempat berfirasat buruk tetapi ia mencoba untuk menepisnya. Hingga musibah itu terjadi. Bram juga terpukul. Tapi ia lebih terpukul melihat Raina yang kehilangan semangat hidupnya.
Ø
Bram tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya hancur. Perlahan Bram mulai membantu Raina untuk bangkit. Raina memang kembali menjalani aktivitas normalnya yang segudang. Namun ada satu yang tak kembali. Perasaan dan cinta. Semua dijalani Raina dengan datar.
Bram yakin usaha kerasnya akan berbuah hasil. Lima tahun kemudian, saat Bram melamar Raina, wanita itu menerimanya padahal Bram tahu wanita itu tidak mencintainya. Itu hanya bentuk ucapan terima kasih Raina sekaligus karena Raina ingin memenuhi harapan kedua orang tuanya. Tetapi tidak masalah bagi Bram. Dengan Raina berada di sampingnya dan ia bisa menjaga Raina, itu sudah lebih dari cukup.
Ø
Tahun berganti. Perasaan Raina masih tetap untuk Awan. Terkadang, Bram iri dengan hujan yang mendapat perhatian Raina. Menyatu dengan wanita itu. Berbeda dengan Bram yang tidak mendapat tempat di hati istrinya.

Kepada hujan
Awalnya diriku merasa sanggup
Meraih cinta yang telah lama kutunggu
Namun beribu kali kau datang dan pergi
Beribu kali pula diriku kecawa
Ia lebih memilihmu
Tapi aku akan terus bertahan
Bukankah cinta selalu menunggu?

Ya, Bram tetap pada pendiriannya. Menunggu hingga hati Raina terbuka untuknya. Mungkin tidak sekarang. Mungkin suatu saat nanti. Ia yakin, semua akan indah pada waktunya. 

1 comment:

  1. comment comment~~ LIKE itunya. Reff-nya...atau apalah itu namanya. Pokoknya yg italic

    ReplyDelete