Saturday, October 3, 2015

Kota Tua : Wisata, Budaya, dan Penyegaran

Sebelum memulai kelas pendidikan, saya dan teman saya menghabiskan waktu dengan berjalan- jalan di Jakarta. Agenda hari ini adalah pergi ke Kota Tua (atau disebut juga Oud Batavia). Sebelumnya, saya hanya pernah mendengar dan melihat di televisi. Akhirnya hari ini berkesempatan mengunjungi Kota Tua juga. Asyiikk ^^

Transportasi
Maka saya mulai googling seputar transportasi menuju ke Kota Tua. Banyak ya alternatif transportasi menuju Kota Tua. Bisa naik busway, angkot, taksi, dan sebagainya. Kami memilih naik busway untuk menghemat biaya. Dengan modal Rp 3.500,- sudah bisa sampai di Kota Tua. Kalau teman- teman ragu atau tidak tahu rute yang pas, bisa juga bertanya kepada petugas yang sedang berjaga. Petugasnya ramah dan teman- teman pasti dikasih tahu harus naik bus jurusan mana.

Karena kami tinggal di daerah Slipi, kami menunggu bus dari halte Slipi Kemanggisan. Waktu itu sudah siang, sekitar jam sebelasan. Beberapa saat kemudian, bus datang. Arahnya tidak langsung menuju ke Kota, jadi harus transit beberapa kali. Dari halte Slipi Kemanggisan, kami turun di halte Grogol 2. Dari halte itu, turun melewati tangga ke halte bagian bawah, halte Grogol. Naik busnya dari sana, jurusan Harmoni. Dari Harmoni, kami berganti bus lagi menuju Kota.

Selamat Datang di Kota Tua :D

Setelah turun di halte Kota, kami berjalan mengikuti papan petunjuk (sempat juga bertanya pada warga sekitaran sana). Keluar dari halte, kami disambut oleh suasana yang berbeda dari biasanya. Kesan vintagenya terasa sekali. Tua tapi asri. Sayang tidak bawa kamera, foto- fotonya hanya berbekal kamera ponsel.
Kami tidak langsung menuju ke Lapangan Fatahillah, melainkan jalan- jalan dulu hingga telihatlah Museum Bank Indonesia (Museum BI). Sebelumnya pas googling, tempat ini juga merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Kota Tua. Jadi kami masuk ke sana. Tiket masuknya juga murah, Rp 5.000,- untuk umum dan GRATIS bagi mahasiswa dengan menunjukkan kartu mahasiswa.
Jam Operasional Museum.

Tas dan segala bawaan dititipkan. Jadi masuknya hanya pegang hape. Kesan pertama saya: museum ini bersih dan adem. Jadi tidak usah takut kepanasan. Begitu masuk, di sisi sebelah kiri terdapat jejeran kasir model jadoel. Lah, jadi ini saja isi museum? Enggak dong, masih ada pintu masuk menuju museum lagi.

Friday, August 21, 2015

Menuju Kelas Pendidikan PFL BCA + Update

Holaa!! Setelah dag dig dug beberapa bulan ini, kabar baik datang juga. Saya lulus seleksi dan akan mulai mengikuti kelas pendidikan bulan September nanti. Tentu saja prosesnya panjang dan butuh kesabaran. Berkali- kali saya hopeless dan hampir menyerah, tapi berkat dukungan orang tua dan teman- teman, saya akhirnya menunggu dengan sabar dan H2C. Setelah lulus, saya ingin berbagi sedikit informasi kepada teman- teman pembaca, semoga bermanfaat ya J

Awalnya, saya melamar di BCA secara manual alias titip ke teman orang tua saya, waktu itu bulan Mei. Tanggal pastinya lupa. He he.. Satu bulan menunggu, tidak ada kabar. Adik saya juga tidak dikabari. Apply-nya barengan.

Kebetulan di bulan Juni, tepatnya tanggal 12, kampus Mikroskil mengadakan job fair dan BCA adalah salah satu perusahaan yang berpartisipasi. Saya pun mencoba lagi melalui aplikasi online yang disediakan pihak BCA saat itu.

Psikotes

Hampir dua minggu (24 Juni 2015), saya mendapat SMS yang berisi undangan untuk mengikuti Seleksi Staff BCA yang akan dilaksanakan di Mikroskil pada 28 Juni 2015 mendatang. Saya sempat sangsi, apakah ini beneran dari BCA atau bukan. Soalnya seleksinya hari Minggu. Tapi lokasinya di kampus, harusnya aman dan benar- benar dari pihak BCA.

Maka pada hari Minggu kuturut Ayah ke kota saya berangkat ke Mikroskil. Sampai di sana sudah lumayan ramai. Ketemu beberapa teman sekolah dan teman kampus juga.  Menuju pukul delapan pagi, peserta seleksi yang datang semakin banyak.

Pukul delapan, tim dari consulting  tiba di kampus. Kami semua diarahkan untuk mengambil nomor ujian  dan spidol. Setelah semuanya oke, psikotes dimulai. Psikotesnya dibagi menjadi dua tahap dengan sistem gugur. Jadi kalau di tahap  pertama tidak lewat, tidak dapat melanjutkan ke tahap dua.

Thursday, July 30, 2015

Late post : Liburan ke Kuala Lumpur - Day 2

Kembali lagi dengan postingan tentang liburan waktu itu yang super telat untuk dishare. Okelah, mungkin para pembaca sudah maklum ya. He he..

Jadi ceritanya pas bangun, perut sudah lapar dan minta diisi. Kami berangkat ke Chinatown (Petaling) untuk mencari sarapan. Untuk Anda yang tinggal di daerah Bukit Bintang (BB), ada dua alternatif transportasi yang bisa dipilih, yaitu dengan Rapid KL (berbayar) atau dengan menaiki bis Go KL (gratiiiis).

Tentu saja sebagai pecinta gratisan, saya memilih untuk naik Go KL. Nah, teman- teman, Go KL sendiri adalah bus gratis yang disediakan oleh pemerintah Malaysia. Rutenya beragam. Untuk menaikinya harus memerhatikan warna line-nya. Karena setiap warna memiliki rute yang berbeda.


tempat nunggu Go KL

Untuk mencapai Chinatown, kami menaiki Go KL Purple Line. Tunggunya di depan Starhill Gallery di seberang Pavilion.  Nah, awalnya kami kira warna jalurnya dilihat dari warna busnya. Jadi begitu ada Go KL yang lewat, kami langsung naik. Eh, kok jadi muter ke KLCC ya? Ternyata, warna bus Go KL memang ungu semua. Ha ha.. Keterangan warnanya bisa dilihat di LED Panel yang ada di depan bus. Oh oh oh..

Go KL sebenarnya terdiri dari beberapa line warna. Hanya saja yang lebih sering lewat itu Green Line  dan Purple Line. Berikut ini rute dari masing- masing line (sumber dari www.spad.gov.my ):
Green Line
1.       KLCC
2.       Angkasaraya
3.       MATIC
4.       Concorde Hotel
5.       Wisma Hap Seng
6.       The Weld
7.       Wisma Lim Foo Yong
8.       Pavilion
9.       Ain Arabia
10.   Monorail Raja Chulan
11.   Wisma Rohas Perkasa
12.   Citibank
13.   Wisma Athlan
Purple Line
1.       HAB Pasar Seni
2.       Bangkok Bank
3.       Muzium Telekom
4.       Menara Olympia
5.       KL Tower
6.       The Weld
7.       Wisma Lim Foo Yong
8.       Pavilion
9.       Ain Arabia
10.   Wisma Boustead
11.   Wisma HLA
12.   Simpang Bkt Ceylon
13.   Muzium Telekom (Opp)
14.   Kota Raya

Friday, July 17, 2015

Review T-drama : Someone Like You

Jadi ceritanya saya gagal posting lagi. Alasan terkuat karena malas ditambah mood yang tidak menentu. Mulai dari rencana melanjutkan posting tentang jalan- jalan, review drama, hingga lirik lagu yang lagunya saya putar berulang- ulang, tertunda (baca: kemungkinan batal). Dan kali ini, saat sedang semangat- semangatnya, saya memutuskan untuk nge-post tentang drama Taiwan yang baru selesai saya tonton.

Iya, drama Taiwan. Secara saya sudah lama tidak menonton drama Taiwan (terakhir karena kurang puas karena ceritanya muter- muter di situ sehingga kesannya jadi kurang bagus), kali ini waktu menonton agak biasa saja. Saya beli dvd-nya karena direkomendasi oleh penjual.

Judul dramanya Someone Like You. Pemeran utama prianya Kingone Wang dan pemeran utama wanitanya Lorene Ren. Di luar perkiraan saya, drama Taiwan yang satu ini cukup lumayan saya nikmati meski konfliknya tidak secetar drama Tiongkok atau drama Korea. Dengan tema cerita yang boleh dibilang sudah biasa, drama ini masih terasa manis plus ada bagian kocaknya juga.


Sebelum memulai, kenalkan cast-nya dulu ya :
Kingone Wang sebagai Fang Zhan Cheng
Lorene Ren/ Kirsten Ren sebagai Liang Luo Han dan Chen Yu Xi (tokoh kembar)
Sean Lee sebagai Li Bo Yan
William Liao sebagai Shen Wei Lian (William Shen)
Nita Lei sebagai Xu Ya Ti
Miao Ke Li sebagai Chen Ma Ma (ibunya Yu Xi dan Yu An)
Xu Hao Xuan sebagai Chen Yu An
Katie Chen sebagai Xie Fei Fei
Shen Hai Rong sebagai Juan Jie

Drama ini berkisah tentang seorang GM (general manager) yang memilih untuk hidup dalam kegelapan karena merasa bersalah atas kematian calon isterinya. Dalam perjalanan menuju lokasi foto prewed, terjadi kecelakaan yang menimpa Zhan Cheng dan tunangannya, Luo Han.

Zhan Cheng berhasil diselamatkan tetapi matanya buta sedangkan Luo Han meninggal dunia. Sejak saat itu, Zhan Cheng kehilangan dunianya. Ia terpuruk. Namun perkataan sahabat sekaligus asistennya, William, membuatnya sadar bahwa Big City, pusat perbelanjaan yang dirintisnya, adalah salah satu harapan Luo Han. Oleh karena itu ia bangkit meski tidak bersedia dioperasi. Zhan Cheng mulai membiasakan dirinya untuk mengelola perusahaan.

Di lain tempat, di Lembah Bersayap, seorang gadis bernama Chen Yu Xi hidup dengan ibunya dan berkomplot membohongi para turis. Yu Xi bekerja sebagai pemandu wisata dan sementara ibunya bekerja sebagai peramal gadungan. Yu Xi akan melihat gelagat dan mendapat informasi terlebih dahulu tentang calon klien ibunya lalu memberitahu ibunya sehingga para klien percaya bahwa Ibu Yu Xi benar- benar adalah titisan dewi. Ternyata mereka berbuat demikian agar bisa membiayai pengobatan adik Yu Xi, Yu An, yang tengah diopname karena penyakitnya yang parah.

Pertemuan Zhan Cheng dengan Yu Xi diawali dengan kesalahpahaman. Saat itu Yu Xi sedang berada di Big City untuk melakukan perawatan tubuh yang kuponnya ia dapat dari sahabatnya. Zhan Cheng mendengar suaranya yang mirip dengan Luo Han memutuskan untuk mengikutinya. Yu Xi yang tidak mengetahui bahwa Zhan Cheng tidak bisa melihat hanya bisa berteriak dan bersikap lebay. Singkatnya ia membuat kekacauan namun berhasil menyelamatkan Zhan Cheng.

William terkejut melihat Yu Xi yang memiliki wajah yang sama persis dengan Luo Han. Oleh karena itu, ia mencari tahu dengan langsung datang ke rumah Yu Xi di lembah bersayap dan berbincang dengan Chen Ma Ma.

Chen Ma Ma mengaku bahwa beliau tidak memiliki putri kembar. Dari perbincangan itu diketahui juga bahwa Yu Xi pernah bersekolah di akademi keperawatan. William saat itu langsung menawari YuXi pekerjaan sebagai perawat bosnya. Dengan iming- iming gaji besar, – yang bisa ia pakai untuk membayar biaya pengobatan Yu An – Yu Xi setuju.

Beruntung Yu An diberi mukjizat. Ia sembuh dari penyakitnya. Sebagai ucapan syukur, Yu An mengabdikan dirinya menjadi pastor. Di gereja, ia bertemu dengan Fei Fei, adik tiri Zhan Cheng. Saat itu Fei Fei tengah patah hati karena kakaknya hanya mencintainya

Sayangnya ia tidak betah bekerja dengan bosnya. Di awal kebersamaan mereka, Yu Xi sering berteriak dengan sikap noraknya dan merasa diperlakukan tidak adil. Tapi setelah Yu Xi tahu mengenai kisah hidup bosnya yang pahit, ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan.

Sejak itu, Yu Xi membantu Zhan Cheng dengan tulus. Ia juga tidak bersikap kasar dan norak lagi terhadap bosnya. Yu Xi juga mendorong semangat Zhan Cheng untuk bisa melihat lagi. Tanpa Yu Xi dan Zhan Cheng sadari, mereka hidup layaknya sepasang kekasih.

Masalah mulai bermunculan. Dari masalah bisnis merambat ke hubungan Yu Xi dengan Bo Yan, pacar Yu Xi, dan Zhan Cheng. Bo Yan merupakan asisten dari Vanessa, GM The Peak, saingan Big City. Vanessa sendiri bukan wanita yang jahat. Tanpa sepengetahuannya, Bo Yan yang ambisius memanfaatkan hubungan Yu Xi dengan Zhan Cheng untuk mendapatkan informasi dan menjatuhkan Big City.

Kejadian demi kejadian mereka – Yu Xi dan Zhan Cheng – lewati. Berkat Yu Xi, Zhan Cheng bersedia dioperasi. Sayangnya setelah dioperasi, Zhan Cheng tidak dapat langsung melihat. Maka ia dan Yu Xi kembali ke motel milik Juan Jie untuk refreshing sambil memulihkan kondisi Zhan Cheng.

Ya Ti, keponakan Juan Jie, menaruh hati pada Zhan Cheng sejak pertemuan pertama mereka waktu itu. Ya Ti merasa familiar dengan Zhan Cheng. Jantungnya juga berdetak lebih kencang saat melihat pria itu. Begitu pun saat ia ke Taiwan dan mengunjungi Zhan Cheng, melihat rumah Zhan Cheng saja ia merasa sangat akrab dengan pria itu. Dan ia mulai mengetahui suatu fakta yang tidak pernah ia sangka akan terjadi dalam hidupnya.


Bagaimana dengan Ya Ti setelah ia mengetahui kenyataan tentang dirinya? Bagaimana dengan dilema hati Yu An? Akankah Yu Xi dan Zhan Cheng bersatu? Ataukah Zhan Cheng menyukai Yu Xi hanya karena ia selalu teringat pada Luo Han? Ikuti kisah mereka dalam Someone Like You ^^

sumber foto : google.com

Wednesday, May 13, 2015

Late post : Tahun Baruan di Kuala Lumpur (Day 1)

Holaa..kembali lagi nge­blog *bukan blogger yang baik, jadi jangan ditiru ya*
Kali ini saya mau berbagi tentang liburan tahun baru tempo hari (iya, gara- gara malas, postingan tertunda hingga hari ini) dan juga sedikiiit informasi bagi teman- teman pembaca yang ingin berlibur hemat ke negeri tetangga, tepatnya Kuala Lumpur. Meski saya sendiri nggak yakin apakah ini yang sudah paling hemat atau masih ada yang lebih hemat, tapi yah..nggak apa- apalah. He he.. Sharing is caring, right? Let’s start….

Sebagai pemburu diskon, tidak hanya pakaian atau buku saja yang saya cari. Tetapi tiket pesawat juga. Untuk liburan tahun baru, menggunakan jasa maskapai Air Asia, maka berangkatlah saya, Mama, dan adik saya pada 31 Desember 2014 lalu. Dengan dua juta rupiah, dapat tiga lembar tiket plus kembalian uang dua puluh ribu perak. Untuk ukuran high season, cari di mana tiket semurah itu? Belinya? Kira- kira delapan atau sepuluh bulan sebelum hari H. Nah.

Liburan pun tiba. Pagi itu kami diantar oleh Papa, berangkat lebih awal ke bandara. Takutnya masih padat kan atau ada perubahan jadwal, berabe kalau ketinggalan pesawat. Jalanan lempang dan tidak macet sehingga kecepatan sampai di bandara. Sekitar pukul setengah sembilan pagi sudah di Kuala Namu International Airport, sedangkan boardingnya jam sebelas siang.

Ya sudahlah, menunggu dengan santai di bandara. Sambil selfie, jalan- jalan, nongkrongin Periplus, hingga contact-an dengan sepupu saya yang juga sama- sama berangkat ke KL, hanya saja mereka berangkat dari Pekanbaru. Nanti baru ketemuan di sana.

Suasana di bandara tidak ramai. Saya rasa mungkin sudah pada berangkat ya. Ternyata sampai di waiting room, padat coy. Maka kami duduk lagi dengan sabar menunggu giliran boarding.

Jam menunjukkan pukul 11:20 saat boarding. Asyik! Karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, waktu lebih kurang satu jam terasa cepat berlalu. Pukul 13:25 pesawat mendarat di KLIA (Kuala Lumpur International Airport) 2. 

Welcome to Malaysia :DD

Ini kali pertama saya mendarat di KLIA2, bandara yang katanya jauh lebih besar dari KLIA. Dan memang benar. Jalan menuju ke bagian imigrasi saja sekitar satu jam kalau saya tidak salah. Tapi tenang saja, ada bangku yang tersedia apabila kecapaian dan ingin istirahat sebentar.
antrian di bagian imigrasi
Setelah jalan sana sini, naik eskalator dan sebagainya, kami tiba di bagian imigrasi. Antrian membludak. Wew. Kembali sabar mengantri. Prosesnya tidak ribet dan cepat. Saatnya menunggu pesawat dari Pekanbaru mendarat. Kami tiba duluan karena pesawat mereka delay.

Adik dan sepupu saya membeli kartu perdana untuk internetan. Saya sebagai kakak yang baik hanya numpang pakai *yang ini juga lebih baik jangan ditiru..hihi..* Pakai kartu Digi, harganya RM 26 , dapat paket data sebesar 700MB, pulsanya dapat berapa saya lupa, bisa untuk teleponan beberapa kali.
tempat yang disediakan untuk menunggu penumpang yang akan tiba
Sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat kota, kami mampir dulu untuk makan di KFC karena belum makan siang dan perut sudah protes minta diisi. Dua set meal seharga RM 31,50 (terdiri dari mashed potato, Sjora,dua cup nasi, dan empat potong ayam) sudah bikin kenyang.
Mari melanjutkan perjalanan ^^
Untuk mencapai arena transportasi, kami harus turun satu lantai. KFC dan toko- toko lain berada di lantai 2, sedangkan loket bus berada di lantai 1. Kami memilih transportasi dengan bus karena ini yang paling murah juga nyaman, hanya RM 10 per orang (update sekarang sudah naik jadi RM 12.00 per orang). Turunnya di KL Sentral.
suasana di lantai 2, bagian kedatangan
pintu keluar menuju parkiran bus

naik bus ini
Cuaca yang cerah berubah menjadi mendung kemudian turun hujan saat sudah hampir tiba di KL Sentral. Yah, sayang sekali. Semoga malamnya tidak hujan. Tiba di KL Sentral, jalan lurus saja hingga keluar dari terminal bus. Di luar terminal, akan terlihat beberapa taksi yang sedang mangkal di sana. Sementara yang lain memilih menaiki taksi, saya berdua adik saya memilih untuk naik monorel. Kata supir taksi yang mangkal di sana, stasiun monorel masih jauh. Sudah tidak tahu di mana loketnya, nekat pula. Ha ha. Berbekal payung lipat yang saya bawa dari rumah (pengalaman mengajarkan saya untuk selalu membawa payung kalau hendak berpergian), kami menyeberangi jalan setelah berjanji akan langsung ke hotel tempat kami menginap.

tebak ini di mana? di dalam eskalator menuju stasiun
Ternyata dekat sekali dengan stasiun monorel. Dari pangkalan taksi, di seberang akan kelihatan sebuah gedung (saya lupa namanya), dan ada eskalator di sana. Naik saja dan kita akan tiba di stasiun monorel. Penat dan lelah rasanya lenyap saat tiba di stasiun. Ini stasiun? Andai saja di Medan stasiunnya bisa sepersepuluh dari ini cantiknya, alangkah bagusnya. Berikut ini suasana di stasiun monorel dan loketnya :
di dalam stasiun
stasiun yang bersih dan nyaman
loket tempat membeli token
kalau tidak mau beli di loket, bisa juga nih beli token melalui mesin ini
scan token di bagian itu agar pembatas terbuka
suasana di platform tempat kami menunggu monorel

Cantik, kan? Oke, kembali ke topik. Karena kami menginap di daerah Bukit Bintang (BB), maka monorel yang kami tumpangi berhenti di stasiun monorel Bukit Bintang. Harga tokennya terjangkau, RM 2,10. Dan…monorel ramai sekali. Saat itu sudah pukul enam sore. Saya yang menenteng ransel terpaksa berdesakan karena tidak mau menunggu untuk ikut kereta selanjutnya.
Di dalam monorel tertera rute dan wilayah perhentian monorel. Berhubung saya dan adik saya tidak tahu arahnya dari KL Sentral ke kiri atau ke kanan juga tidak tahu jalan, jadi kami menghitung saja. Kebetulan stasiun monorel BB berada di tengah, jadinya di perhentian ke-5, baru kami turun.
Turun dari monorel, masukkan token, kemudian turun dari tangga di sebelah kanan. Masuk gang kiri (kalau ke sebelah kanan arah ke jalan raya). Ikuti plang petunjuk ke Jalan Alor. Gang yang dimaksud di sini bukan gang seperti gang rumahan, tetapi jalur yang dibuat khusus untuk lalu lalang pejalan kaki karena sedang ada pembangunan di daerah BB.
Saya menginap di Greenland Hotel, tarifnya RM 98 per malam (high season) dan RM 88 per malam (low season). Kamarnya tidak luas namun murah mengingat lokasinya yang strategis.
Tak terasa sudah pukul delapan lewat. Padahal baru istirahat dan berbenah sejenak. Saatnya malam tahun baruan ^^
Saat malam, Jalan Alor yang merupakan kawasan penjaja kuliner dipenuhi oleh pengunjung. Apalagi malam ini malam tahun baruan, ramainya dobel dobel. Beraneka ragam kuliner dapat kita jumpai di sini, dimulai dari es krim, masakan Melayu, Chinese, Vietnam, dan masih banyak lagi. Bagi yang suka Lok- Lok, daerah ini cocok untuk berburu Lok- Lok.
Fat Brother Satay


Melihat aneka macam sate yang tersaji di Fat Brother Satay membuat saya lupa dengan diet telur burung puyuh. Lupakan kolestrol dan masuklah satu tusuk telur burung puyuh goreng (sayang rasanya kalau hanya direbus) ke dalam pesanan saya.
RM 7,50 dapat tiga tusuk ini
Masih geli- geli saja alias belum kenyang, kami lanjut ke bagian makanan berat. Pilihan jatuh ke curry noodle. Nama kiosnya Alor Corner Curry Noodle. Lidah saya kurang terbiasa sih saat makan. Kata Mama dan Tante saya fish ball soupnya enak. Mereka sampai balik ke sana lagi beberapa hari kemudiannya.
Cukup dulu wisata kulinernya. Tujuan selanjutnya: Pavilion. Saya belum pernah ke sini sebelumnya. Praktis tidak tahu jalan. Papa sih sudah kasih tahu jalan pintas ke sana, tapi yah….tahu kan saya yang pelupa? Ha ha.. Jadilah kami muter- muter. Untungnya ketemu meski lewat jalan belakang.
sampai pada duduk di tangga
Di sinilah pusatnya. Ramainya pakai banget. Tripel- tripel deh dibandingkan di Jalan Alor tadi. Mau jalan saja desak- desakkan. Tangganya penuh diduduki orang. Tapi memang keren sih dekorasi Natalnya. Sebenarnya mau ke Tokyo Street yang terkenal itu, tapi lagi- lagi nyasar dan semua sudah pada minta balik, jadilah main ke Tokyo Streetnya ditunda.
Di KL tidak seperti Medan yang ramai dipenuhi suara mercon pada malam tahun baru. Di sana  ‘tradisinya’ pakai spray. Kocok botolnya dan semprotkan. Di jalanan banyak sekali yang jual. Saya tidak beli, hanya jadi korban alias disemprot oleh pejalan kaki yang memegang botol di tangan mereka. Seru juga sih. Beda saja rasanya. He he..
Tidak asyik rasanya melewati pergantian tahun dengan berdiam di hotel. Adik saya sih sudah keliling lagi. Maka saya dan sepupu saya berkeliling juga. Rencana mau nyusul adik saya, tapi karena nggak ket
emu, ya sudah kami keliling- keliling di sekitar BB.
Puncaknya ketika sampai di Changkat Bukit Bintang. Saat itu hampir teng jam dua belas, saya bertanya kepada kakak sepupu saya, “ci, di sini ga tren ya main mercon atau kembang api gitu? Adem bener.”
Dan….dhuaaarrrr……
Kembang api itu menyala. Di langit di atas kepala saya. Saya bengong sebentar, kemudian merunduk takut kena *dasar bodoh, begitu tinggi mana mungkin ya sampai di kepala saya..ha ha..* Tidak berlebihan tapi mewakili tahun yang telah berganti saat itu. Selamat Tahun Baru ^^
Begitulah saya melewati pergantian tahun baru. Badan juga sudah capek, saatnya kembali ke hotel dan beristirahat. Sampai jumpa di postingan selanjutnya di hari kedua J

*Foto oleh : Senjaya Lin*

Intip juga perjalanan seru ke Putrajaya dalam postingan Futuristic Putrajaya(klik untuk melihat)