“In this economy…”
“In this economy…”
Penggalan kalimat ini marak
berseliweran. Saya awalnya mengira
ini hanya sebatas tren di utas. Namun kini rasanya semakin nyata. Masa yang tengah
kita hadapi kini, salah satunya inflasi yang cukup tinggi, membuat kita harus senantiasa
cermat dan waspada dalam mengatur keuangan. Saya setahun belakangan ini sudah
mulai berhemat dikarenakan memang sedang ada kebutuhan yang mengharuskan saya
memotong anggaran di beberapa bagian. Pada tulisan kali ini, saya ingin sharing
dan berbagi pengalaman, siapa tahu bermanfaat in this economy. Ha ha. Kan,
memang cocok.
Anggaran pertama yang saya hilangkan adalah berhenti berlangganan aplikasi mendengar lagu dan sewa domain. Saya biasanya pakai Spotify family plan. Memang murah, per bulannya tidak sampai dua puluh ribu. Namun ditambah dengan beberapa anggota keluarga yang tidak membayar, lumayan juga. Jadi saya putuskan untuk membubarkan “keluarga” ini dan menggunakan fitur non-premium. Iklan? Tidak mengapa. Kebetulan saya juga sedang tidak boleh sering pakai airpods sehingga aplikasi lebih jarang saya buka.
Sebelumnya saya menyewa domain
untuk blog ini. Per tahun dua ratus ribuan. Kalau dibagi bulanan memang cukup
terjangkau. Namun jika masih belum bisa memberikan return, saya rasa
kurang bijak jika tetap meneruskan. Satu tahun ini saya sudah hemat hampir satu
juta rupiah. Lumayan untuk menambah ke pos berobat.
Kemudian, saya mengurangi mengopi ke kedai kopi. Kata orang, menyeduh kopi
di rumah jatuhnya lebih mahal. Benar sekali. Alat manual dimulai dari grinder,
timbangan, hingga alat penyeduh espresso saja sudah berapa. Namun beruntungnya
saya karena sejak pandemi, saya sudah mulai berinvestasi pada alat-alat ini. Jadi
sekarang tinggal lanjut beli beans saja. Dulu, sebelum banyak bertemu
dengan kedai kopi yang menyajikan esensi mengopi yang menyentuh hati dan
pikiran saya, saya senang sekali melakukan aktivitas café hopping. Harus
estetik pula itu. Anggaplah sekali mengopi itu seratus ribu (kopi dan kudapan).
Kalau seduh di rumah di kisaran tiga
belas hingga empat belas ribu untuk biji kopi. Jika sebulan dulu bisa minimal
tiga kali, kini paling banter sebulan sekali atau tidak ke kedai kopi sama
sekali. Asyik sekali kan! Pos ini saya alokasikan untuk tambahan akomodasi saat
pergi berobat bulanan.
Ada lagi yang bisa dihemat? Tentu saja ada! Pos ini paling berat saya rasa
di awal tetapi setelah menjalaninya ternyata bisa juga. Saya dulunya
aktif mengikuti klub buku dan belanja buku. Booster soalnya. Di tengah
huru-hara hidup ini, menemukan teman- teman sefrekuensi itu rasanya
menyenangkan sekali. Seolah jeda sejenak. Aktivitas ini juga saya pause
dulu. Memang sih, sebulan hanya sekali. Sayang banget ya kan harus di-skip.
Ternyata tidak! Belakangan saya
menemukan cara yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan, yaitu memanfaatkan jam
makan siang. Saya termasuk orang yang makannya cepat. Dulu, saya makan sambil
bekerja. Setelah lepas dari jeratan beracun itu, saya makan dengan lebih mindful.
Kini, saya selalu menenteng sebuah buku, termos air panas, cangkir kecil
beserta kopi instan dalam tas kecil yang saya bawa ke tempat makan siang saya
di lantai teratas kantor saya yang kebetulan bukan tempat favorit staf untuk
makan.
Seusai makan, saya mengeluarkan
alat healing saya. Kopi diseduh dan saya mulai membuka buku. Buku yang sifatnya page turner
sangat menyegarkan dibaca di siang hari seperti ini. Setelah baca saya merasa recharged
karena saat membacanya saya tenggelam dalam cerita, seolah ikut beraktivitas
bersama tokoh dalam cerita. Untuk bukunya, saya pilih dari buku- buku yang ada
di rumah karena saya juga sedang berhenti membeli buku. Hematnya jadi dobel. Ha
ha.
Saat menulis ini, saya jadi terpikir untuk mencari kembali majalah Natgeo
yang pernah saya beli secara daring beberapa tahun lalu. Sepertinya akan
seru karena bukunya bergambar dan berwarna. Oke, semoga setelah ini saya tidak
lupa.
Itu dia beberapa cara yang terpikirkan
oleh saya untuk menghemat pundi-pundi di tengah kebutuhan kami yang membutuhkan
budget lebih ini. Memang ya kalau sudah ditodong, pasti ada saja yang
terpikirkan. Bagi saya, ini menjadi langkah awal yang bagus, bukan lagi manifestasi
namun tindak nyata. Setelah pengobatan selesai, langkah penghematan ini masih
akan saya teruskan. Lumayan banget ini kalau ditabung, bisa dapat aset dan bisa
liburan gratis juga. Saya share pada tulisan terpisah ya. Jika ada
teman-teman yang kebetulan membaca tulisan saya, semoga bermanfaat dan jika ada
informasi atau cara-cara berhemat, bisa share juga ya di kolom komentar.
Semangat dan salam sehat untuk kita semua!


Be First to Post Comment !
Post a Comment