Sebuah Jurnal

Ngapain Dulu Setelah Tiba di Siem Reap?

menuju arrival hall Siem Reap International Airport.
Hati- hati saat mengambil gambar dari area landasan.
Siem Reap awalnya tidak masuk ke dalam itinerary liburan saya. Hanya Ho Chi Minh dan Hanoi. Baru saat Papa saya mengusulkan liburan ke Kamboja juga, saya menyisipkan agenda ke Siem Reap. Setelah menyusun rencana penerbangan – yang berganti- ganti antara ke Vietnam duluan atau ke Siem Reap – diputuskanlah kami liburan ke Siem Reap duluan. Yeii, nggak sabar pengin ke Angkor Wat dan sekitarnya.


Hari yang ditunggu- tunggu tiba. Pada hari terakhir di bulan September, kami bertolak ke Siem Reap menumpang si merah. Transitnya pilih di Kuala Lumpur saja biar irit. He he. Rencananya setelah mendarat mau jajan di Jaya Grocer dulu, tapi karena antrean imigrasinya panjang banget, ditambah flight kami molor setengah jam-an, jadilah kami balik lagi ke dalam.

Setelah penerbangan dan transit yang lumayan memakan waktu, kami tiba di Siem Reap International Airport. Lalu apa yang harus dilakukan setelah tiba?

Arrival hall. Bayon sudah menyambut dari kejauhan :)
Di sebelah kiri gerbang kedatangan, sebelum konter imigrasi, ada petugas yang menyediakan formulir kedatangan dan keberangkatan. Bagi pengunjung yang diwajibkan mengurus visa, bisa diurus di konter sebelah kanan gerbang kedatangan terlebih dahulu. Pengunjung dengan paspor negara ASEAN bebas visa, jadi tinggal mengisi Arrival/Departure Card. Formulirnya didapat dari petugas yang berjaga di sebelah kiri gerbang kedatangan. Formulirnya terdiri dari sisi kiri dan kanan. Kolom- kolomnya hampir sama. Diisi saja keduanya. Baru setelah itu antre lagi untuk cap paspor. Bagian departure-nya itu akan dikembalikan dan distaples di paspor kita.

Ini dia form yang wajib diisi biar kita nggak bolak balik konter imigrasi ^^

Waktu masuk ke arrival hall-nya, saya dan Papa tidak tahu kalau kami harus mengisi Arrival/Departure Card. Pantas saja semua orang sibuk menulis. Saya kira itu untuk mengurus VOA. Ternyata saat giliran saya, petugas imigrasi meminta formulir itu. Baru deh tahu kalau semua pengunjung wajib mengisi Arrival/Departure Card.

Ready to go XD

Paspor telah dicap, tuktuk driver sudah menunggu, petualangan kami siap dimulai. Nantikan di postingan selanjutnya ya  J

‘Mencicipi’ Sisa- Sisa Kolonialisme di Cafe Batavia

Tanpa persiapan apa- apa, kami – saya dan dua teman saya – langsung meluncur ke Kota Tua setelah mengisi perut di salah satu kedai pizza di Slipi Jaya. Baju belum sempat diganti dan ransel masih teronggok manis di kamar kos. Ayuk saja, kalau diajak ke Kota Tua nggak bakalan menolak. He he.

Sesampainya di sana, Museum BI sudah tutup. Karena sudah sore jam tiga lewat juga. Kami lanjut ke Lapangan Fatahillah. Suasana lapangan cukup ramai dan teman saya mengusulkan untuk mencoba nongkrong di Cafe Batavia. Kebetulan saya juga belum pernah ke sana tiap kali ke Kota Tua.


Cafe Batavia merupakan bangunan yang dulunya digunakan oleh VOC sebagai kantor administratif mereka. Perjalanan panjang kemudian membawa bangunan ini akhirnya dirombak menjadi kafe setelah berubah fungsi dari kantor administratif menjadi galeri seni sebelumnya.

Suasana lantai dasarnya

Bandung Lautan.....

Silakan titik- titik di atas diisi sendiri ya. Kalau saya lebih senang isiannya asmara, jadinya Bandung Lautan Asmara *ngarep*

Memang suasananya mendukung banget. Siang harinya mengunjungi Kawah Putih dengan yang memesona, ditambah dengan udara sejuk, dan suasana kota yang membangun mood jadi mellow- mellow gimana gitu *lebay, abaikan saja*

Libur Lebaran Ke Mana Nih?

Libur Lebaran tahun ini cukup panjang. Mulai dari 23 Juni hingga 29 Juni 2017. Untuk saya yang kampungnya di Medan, maka saya memilih mudik ke kampung orang alias liburan. Pertanyaannya mau jalan- jalan ke mana? Secara musim liburan pasti ramai di mana- mana. 

Setelah mencari sana- sini, akhirnya pilihan jatuh ke Jakarta. Berangkatnya bareng teman kuliah dulu. Jakarta, I’m coming (again) ^^

Enaknya, jalanan lancar dan bebas macet. Yang nggak enaknya, tempat wisata pada penuh dan banyak toko yang tutup. Bayangin deh antreannya pada mengular dimana- mana. Nah, kalau jalanan kota bebas macet, suasana jalan di kawasan wisata pada padat.

Selain Jakarta, kami juga singgah ke Bandung. Naik kereta api yang tiketnya sudah dipesan dari Medan. Aplikasi- aplikasi traveling sangat membantu. Semuanya terjadwal dengan baik. Yeeii ^^
Untuk postingannya, saya buat terpisah menurut tempat wisata yang kami kunjungi. Enjoy!

Sudah mejeng :



GC’s pick : Airy Cidadap Bukit Indah 9 Bandung

Sebagai salah satu kota wisata di Indonesia, Bandung menyediakan akomodasi bagi para pengunjungnya.  Urusan menginap, tinggal pilih sesuai ukuran kantong. He he. Sebagai kaum backpacker, hotel berbintang belum jadi pilihan kami saat itu. Kami mencoba mencari penginapan melalui aplikasi Airy Rooms.

area receptionist

parkiran luas


Bandung Selatan : Kawah Putih dan Sekitarnya

Pada liburan ke Bandung kali ini, kami memutuskan untuk mengunjungi Kawah Putih, salah satu lokasi wisata yang terkenal di Bandung Selatan. Beruntung sekali iparnya teman saya ikut, jadi dapat tebengan gratis. Thanks Bang Lulu *rejeki anak saleh*

Boarding pass KA. Sistemnya self check in langsung di counter yang tersedia

Untuk mengantisipasi jalanan macet, kami menumpang kereta api ke Bandung. Tiketnya beli jauh hari. Pas dilihat, masih ada tiket kereta dan masih banyak. Asyik. Langsung pesan PP dan dapat tambahan diskon lima ribu perak lagi per orang. Lumayan. Karena perjalanannya hanya sekitar tiga jam, kami membeli tiket ekonomi. Harga tiketnya Rp 90.000,- sekali jalan, menumpang KA Argo Parahyangan. Tiket perginya beli yang paling pagi dan tiket balik ke Jakartanya beli yang jam 7 malam.
naik kereta api..tut..tut..tut..

Transportasi ke Genting yang Anti Ribet + Update Per September 2022



Genting Highland merupakan salah satu primadona di negara Malaysia. Jika teman- teman berkunjung ke Kuala Lumpur, tidak ada salahnya singgah ke Genting dan menginap barang satu atau dua malam di sana. Kini, hadir Sky Avenue, sebuah mall yang berada tepat di sebelah First World Hotel, jalan kaki dari lobi langsung tembus ke Sky Avenue. Selain terkenal kasinonya, kuliner di Genting juga beragam sehingga para pengunjung bisa memanjakan lidah di sini. Mulai dari kuliner khas Timur hingga Barat ada di sini, dari yang ringan hingga yang mengenyangkan perut. Kalau favorit saya, churros dan hazelnut tart-nya.

Perjalanan ke Genting memakan waktu satu jam dari Kuala Lumpur. Akomodasi ke sana juga nggak ribet. Teman- teman bisa pilih beberapa opsi, tergantung nyamannya bagaimana. Saat saya dan Mama saya tiba di KLIA 2, ramainya bukan main. Long weekend, jadi harap maklum. Antrean cap paspor di imigrasi membludak. Belum lagi turis- turis yang main serobot dan potong. Duh. Satu jam lebih kami menunggu. Tiket bus ke Genting juga belum terbeli. >__< *curhat traveler*

Tiket dari KLIA2 menuju KL Sentral @RM 12.00
Setelah urusan cap- cap selesai, kami turun dan langsung membeli tiket bus ke KL Sentral. Harga tiketnya RM 12. Bus pun berangkat sesuai waktu yang telah ditentukan. Sayangnya, ketika sampai di KL Sentral, tiket bus ke Genting sold out. Gawat, padahal Papa saya sudah menunggu di sana. Lalu gimana dong? Tenang, banyak jalan menuju Roma Genting. Kami akhirnya bertolak ke Pudu Sentral (naik Rapid dari depan Nu Sentral) dan naik taksi dari sana karena counter Go Genting sudah tutup dengan cantiknya –  tiketnya sudah habis. Berikut ini jenis- jenis transportasi dan harganya menuju ke Genting :